IPB University Sebut Pentingnya Sistem Pangan sebagai Kunci Swasembada
Senin, 30 Maret 2026 - 17:10 WIB
Lihat video: Prabowo Klaim Indonesia Aman Masalah Pangan di Tengah Ancaman Perang
Menurut Bayu, indikator tersebut menjadi penyempurnaan dari instrumen yang selama ini digunakan, seperti Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN). “Indeks Kesejahteraan Petani sudah menangkap sifat multidimensi kesejahteraan petani melalui 21 variabel,” ujarnya.
Bayu menyebut, pada September 2025 Badan Anggaran DPR RI bersama pemerintah menyepakati penambahan tiga indikator kesejahteraan rakyat dalam RAPBN 2026, yakni IKP, penciptaan lapangan kerja formal, dan Gross National Income (GNI) per kapita. Setelah RAPBN disahkan menjadi APBN 2026, ketiga indikator tersebut resmi digunakan untuk mengukur efektivitas pelaksanaan anggaran negara.
Dari perspektif bisnis, Bayu menilai tantangan terbesar dalam membangun sistem pangan berkelanjutan adalah perubahan pola pikir. “Tantangan terbesarnya adalah mengubah cara pikir dari sektoral yang terkotak-kotak menjadi satu kesatuan sistem,” katanya.
Menurut dia, selama ini kebijakan pangan kerap diperlakukan secara parsial, padahal setiap komponen mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi saling memengaruhi. Prof. Bayu menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam membangun sistem pangan nasional. Ia menyebut pendekatan pentahelix melibatkan pemerintah, sektor swasta, akademisi, media, dan organisasi non-pemerintah yang masing-masing memegang peran dan saling melengkapi. “Sistem pangan membutuhkan peran optimal semua pihak,” tegasnya.
Dalam konteks bisnis, ia menilai perusahaan benih memiliki peran strategis. Selain mengembangkan teknologi dan inovasi pertanian, perusahaan benih juga memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan varietas serta pengelolaan hak kekayaan intelektual. “Perusahaan benih memiliki akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang sangat penting bagi pengembangan teknologi pertanian,” katanya.
Menurut Bayu, indikator tersebut menjadi penyempurnaan dari instrumen yang selama ini digunakan, seperti Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN). “Indeks Kesejahteraan Petani sudah menangkap sifat multidimensi kesejahteraan petani melalui 21 variabel,” ujarnya.
Bayu menyebut, pada September 2025 Badan Anggaran DPR RI bersama pemerintah menyepakati penambahan tiga indikator kesejahteraan rakyat dalam RAPBN 2026, yakni IKP, penciptaan lapangan kerja formal, dan Gross National Income (GNI) per kapita. Setelah RAPBN disahkan menjadi APBN 2026, ketiga indikator tersebut resmi digunakan untuk mengukur efektivitas pelaksanaan anggaran negara.
Dari perspektif bisnis, Bayu menilai tantangan terbesar dalam membangun sistem pangan berkelanjutan adalah perubahan pola pikir. “Tantangan terbesarnya adalah mengubah cara pikir dari sektoral yang terkotak-kotak menjadi satu kesatuan sistem,” katanya.
Menurut dia, selama ini kebijakan pangan kerap diperlakukan secara parsial, padahal setiap komponen mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi saling memengaruhi. Prof. Bayu menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam membangun sistem pangan nasional. Ia menyebut pendekatan pentahelix melibatkan pemerintah, sektor swasta, akademisi, media, dan organisasi non-pemerintah yang masing-masing memegang peran dan saling melengkapi. “Sistem pangan membutuhkan peran optimal semua pihak,” tegasnya.
Dalam konteks bisnis, ia menilai perusahaan benih memiliki peran strategis. Selain mengembangkan teknologi dan inovasi pertanian, perusahaan benih juga memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan varietas serta pengelolaan hak kekayaan intelektual. “Perusahaan benih memiliki akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang sangat penting bagi pengembangan teknologi pertanian,” katanya.
Lihat Juga :