Ketika Karisma Pergi, Nilai Harus Tetap Hidup
Jum'at, 06 Maret 2026 - 14:10 WIB
Di sebuah pesantren, misalnya, setelah kiai wafat, anak-anaknya justru sibuk memperebutkan aset. Santri bubar, kegiatan berhenti, dan pesantren yang dulu ramai kini hanya tinggal bangunan tua. Tragedi ini mengajarkan bahwa pewarisan nilai tidak cukup hanya dengan nasihat. Ia harus dilembagakan, dikaderkan, dan dijaga dengan sistem yang kuat.
Kegagalan regenerasi juga bisa terjadi karena terlalu bergantung pada karisma pribadi. Ketika karisma itu pergi, yang tersisa hanya kekosongan. Para santri yang dulu setia karena cinta pada sosok kiai, tiba-tiba kehilangan arah ketika sosok itu tiada. Mereka tidak punya ikatan dengan nilai atau lembaga, hanya dengan pribadi.
Dari sini kita belajar: karisma adalah anugerah, tapi sistem adalah keharusan. Karisma bisa menarik orang datang, tapi hanya sistem yang bisa membuat mereka bertahan.
Apa yang bisa dipelajari dari pengalaman pesantren-pesantren ini?
Pertama, pelembagaan nilai. Nilai-nilai inti harus dirumuskan, diajarkan, dan dijaga agar tidak bergantung pada interpretasi pribadi. Di Gontor, ada Panca Jiwa dan Panca Jangka. Di Darunnajah, ada Panca Bina, Panca Dharma, ada falsafah pohon pisang. Di Sidogiri, ada prinsip ekonomi sebagai perpanjangan dakwah. Tanpa pelembagaan, nilai akan mudah luntur ketika penjaganya tiada.
Kedua, sistem kaderisasi yang panjang. KH Imam Zarkasyi menggembleng penerusnya selama delapan tahun. KH Mahrus Amin menanamkan falsafah sejak santri masih muda. KH Nawawi Thoyib memberi ruang bagi ustadz muda untuk belajar dan berinovasi. Tidak ada pemimpin instan dalam organisme yang sehat. Kaderisasi bukan hanya transfer ilmu, tapi juga transfer energi batin. Doa, restu, dan warisan spiritual.
Ketiga, mekanisme transisi yang jelas. Badan Wakaf di Gontor, Dewan Nazir di Darunnajah, pemisahan manajemen di Sidogiri, semua adalah mekanisme yang memastikan transisi berjalan mulus ketika pemimpin wafat. Tanpa mekanisme ini, yang terjadi adalah kekosongan kekuasaan dan potensi konflik.
Keempat, kemandirian jaringan. Cabang-cabang pesantren harus diberi ruang untuk tumbuh mandiri, beradaptasi dengan kondisi lokal, tapi tetap terhubung dalam jaringan nilai. Tunas pohon pisang harus dipisahkan, tapi ia tetap membawa DNA yang sama.
Kembali ke pertanyaan awal. Ketika karisma pergi, apakah organisme ini akan bertahan?
Jawabannya: ia akan bertahan, jika karisma telah berhasil mengkristal menjadi nilai, dan nilai telah berhasil terlembagakan menjadi sistem. Ia akan bertahan, jika tunas-tunas telah siap sebelum induk mati. Ia akan bertahan, jika jaringan tidak hanya terikat pada figur, tapi pada visi bersama.
KH Hasan Abdullah Sahal pernah berkata dalam suasana haru saat melepas kepergian KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Di hadapan ribuan santri yang menangis, beliau berkata dengan suara bergetar.
Pondok sebesar ini. Tidak mungkin pondok ini saya pimpin orang sekecil saya, setua saya, sekuat saya, tidak mungkin. Hanya dengan jiwa besar, hanya dengan kebersamaan yang besar, hanya dengan pengorbanan yang besar.
Inilah jawaban atas kegelisahan kita. Organisme ideologis bertahan bukan karena satu orang besar, tapi karena kebersamaan yang besar, pengorbanan yang besar, dan nilai yang besar.
Di Iran, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Di pesantren-pesantren kita, ujian itu datang silih berganti setiap kali seorang kiai wafat. Tapi selama nilai-nilai itu terus dirawat, selama tunas-tunas terus tumbuh, selama jaringan tetap terhubung, maka organisme ini akan tetap hidup.
KH Mahrus Amin mengajarkan falsafah pohon pisang. Beliau tahu bahwa tidak semua tunas tumbuh. Ada yang mati, ada yang kerdil, ada yang dimakan hama. Tapi beliau juga tahu bahwa dari seratus tunas, akan ada beberapa yang tumbuh besar, berbuah lebat, lalu meninggalkan tunas lagi.
Begitulah keabadian bekerja. Bukan karena tidak pernah mati, tapi karena selalu ada yang baru tumbuh.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, peneliti pesantren. Penulis buku: Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat. Masih terus belajar dari pesantren-pesantren di Nusantara.
Kegagalan regenerasi juga bisa terjadi karena terlalu bergantung pada karisma pribadi. Ketika karisma itu pergi, yang tersisa hanya kekosongan. Para santri yang dulu setia karena cinta pada sosok kiai, tiba-tiba kehilangan arah ketika sosok itu tiada. Mereka tidak punya ikatan dengan nilai atau lembaga, hanya dengan pribadi.
Dari sini kita belajar: karisma adalah anugerah, tapi sistem adalah keharusan. Karisma bisa menarik orang datang, tapi hanya sistem yang bisa membuat mereka bertahan.
Pelajaran untuk Kita Semua
Apa yang bisa dipelajari dari pengalaman pesantren-pesantren ini?
Pertama, pelembagaan nilai. Nilai-nilai inti harus dirumuskan, diajarkan, dan dijaga agar tidak bergantung pada interpretasi pribadi. Di Gontor, ada Panca Jiwa dan Panca Jangka. Di Darunnajah, ada Panca Bina, Panca Dharma, ada falsafah pohon pisang. Di Sidogiri, ada prinsip ekonomi sebagai perpanjangan dakwah. Tanpa pelembagaan, nilai akan mudah luntur ketika penjaganya tiada.
Kedua, sistem kaderisasi yang panjang. KH Imam Zarkasyi menggembleng penerusnya selama delapan tahun. KH Mahrus Amin menanamkan falsafah sejak santri masih muda. KH Nawawi Thoyib memberi ruang bagi ustadz muda untuk belajar dan berinovasi. Tidak ada pemimpin instan dalam organisme yang sehat. Kaderisasi bukan hanya transfer ilmu, tapi juga transfer energi batin. Doa, restu, dan warisan spiritual.
Ketiga, mekanisme transisi yang jelas. Badan Wakaf di Gontor, Dewan Nazir di Darunnajah, pemisahan manajemen di Sidogiri, semua adalah mekanisme yang memastikan transisi berjalan mulus ketika pemimpin wafat. Tanpa mekanisme ini, yang terjadi adalah kekosongan kekuasaan dan potensi konflik.
Keempat, kemandirian jaringan. Cabang-cabang pesantren harus diberi ruang untuk tumbuh mandiri, beradaptasi dengan kondisi lokal, tapi tetap terhubung dalam jaringan nilai. Tunas pohon pisang harus dipisahkan, tapi ia tetap membawa DNA yang sama.
Yang Abadi Bukan Pemimpin, Tapi Nilai
Kembali ke pertanyaan awal. Ketika karisma pergi, apakah organisme ini akan bertahan?
Jawabannya: ia akan bertahan, jika karisma telah berhasil mengkristal menjadi nilai, dan nilai telah berhasil terlembagakan menjadi sistem. Ia akan bertahan, jika tunas-tunas telah siap sebelum induk mati. Ia akan bertahan, jika jaringan tidak hanya terikat pada figur, tapi pada visi bersama.
KH Hasan Abdullah Sahal pernah berkata dalam suasana haru saat melepas kepergian KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Di hadapan ribuan santri yang menangis, beliau berkata dengan suara bergetar.
Pondok sebesar ini. Tidak mungkin pondok ini saya pimpin orang sekecil saya, setua saya, sekuat saya, tidak mungkin. Hanya dengan jiwa besar, hanya dengan kebersamaan yang besar, hanya dengan pengorbanan yang besar.
Inilah jawaban atas kegelisahan kita. Organisme ideologis bertahan bukan karena satu orang besar, tapi karena kebersamaan yang besar, pengorbanan yang besar, dan nilai yang besar.
Di Iran, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Di pesantren-pesantren kita, ujian itu datang silih berganti setiap kali seorang kiai wafat. Tapi selama nilai-nilai itu terus dirawat, selama tunas-tunas terus tumbuh, selama jaringan tetap terhubung, maka organisme ini akan tetap hidup.
KH Mahrus Amin mengajarkan falsafah pohon pisang. Beliau tahu bahwa tidak semua tunas tumbuh. Ada yang mati, ada yang kerdil, ada yang dimakan hama. Tapi beliau juga tahu bahwa dari seratus tunas, akan ada beberapa yang tumbuh besar, berbuah lebat, lalu meninggalkan tunas lagi.
Begitulah keabadian bekerja. Bukan karena tidak pernah mati, tapi karena selalu ada yang baru tumbuh.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, peneliti pesantren. Penulis buku: Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat. Masih terus belajar dari pesantren-pesantren di Nusantara.
(nnz)
Lihat Juga :