Peluang Sjafrie Sjamsoeddin di Bursa Capres-Cawapres 2029, Ini Analisis Ray Rangkuti
Kamis, 19 Februari 2026 - 06:41 WIB
Sebelumnya, Hasil survei terbaru lembaga Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal calon presiden 2029. Termasuk Sjafrie Sjamsoeddin, sejumlah gubernur, hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Peneliti IPI Abdan Sakura mengungkapkan, munculnya para wajah baru tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor mempengaruhi elektabilitas mereka. Seperti kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, visi-misi dan program kerja.
Dia mencontohkan, empat indikator yang memperkuat elektabilitas Sjafrie berupa kepemimpinan dan ketokohannya pada angka 44%, rekam jejak kepemimpinan 17%, rekomendasi lingkungan dan media 12%, serta integritas 10%. Baca juga: Tahapan Pemilu 2029 Dimulai Tahun Depan, DPR Targetkan RUU Pilkada Rampung 2026
"Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafrie tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral," ujarnya.
Menurutnya, celah tersebut membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya "pemain utama". Sementara itu, dirinya menyebutkan rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual.
Sebelumnya, Hasil survei terbaru lembaga Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal calon presiden 2029. Termasuk Sjafrie Sjamsoeddin, sejumlah gubernur, hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Peneliti IPI Abdan Sakura mengungkapkan, munculnya para wajah baru tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor mempengaruhi elektabilitas mereka. Seperti kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, visi-misi dan program kerja.
Dia mencontohkan, empat indikator yang memperkuat elektabilitas Sjafrie berupa kepemimpinan dan ketokohannya pada angka 44%, rekam jejak kepemimpinan 17%, rekomendasi lingkungan dan media 12%, serta integritas 10%. Baca juga: Tahapan Pemilu 2029 Dimulai Tahun Depan, DPR Targetkan RUU Pilkada Rampung 2026
"Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafrie tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral," ujarnya.
Menurutnya, celah tersebut membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya "pemain utama". Sementara itu, dirinya menyebutkan rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual.
(poe)
Lihat Juga :