Filsafat Pohon Pisang dan Organisme Pesantren: Menelusuri Warisan Pemikiran KH. Mahrus Amin

Senin, 16 Februari 2026 - 14:11 WIB
KH. Mahrus bersama KH. Abdul Manaf Mukhayyar dan KH. Qomaruzzaman mendirikan Pondok Pesantren Darunnajah di atas tanah wakaf seluas 4,7 hektare di Ulujami, Jakarta Selatan, pada 1 April 1974. Sebenarnya nama Darunnajah sudah ada sejak 1960 an dan cikal bakalnya dari Madrasah Islamiyah di Palmerah sejak 1938. Santri pertama ketika menjadi pesantren hanya tiga orang. Tapi mereka punya mimpi besar.

Dari satu induk di Ulujami, lahirlah tunas-tunas. Bukan dalam arti fisik semata, tapi dalam bentuk pesantren-pesantren cabang yang tersebar di berbagai daerah. Hingga kini, Darunnajah memiliki puluhan cabang dan satuan pendidikan di seluruh Indonesia .

Inilah yang beliau maksud: jangan hanya menjadi pohon besar di satu tempat, tapi sebarkan tunas-tunas ke mana-mana, agar manfaatnya meluas.

Gerakan Seribu Pesantren: Menyebar Tunas ke Seluruh Nusantara



Dari filosofi pohon pisang ini, KH. Mahrus kemudian menggagas sesuatu yang lebih besar: Gerakan Seribu Pesantren Nusantara.

Beliau prihatin melihat masih banyak daerah di Indonesia yang belum tersentuh pendidikan pesantren. Kader-kader umat belum tersebar merata. Maka, harus ada upaya sistematis untuk mendirikan pesantren di berbagai pelosok .

Gerakan ini bukan sekadar wacana. Hingga kini, terus berjalan. Ratusan pesantren telah berdiri, menjadi pusat-pusat dakwah dan pendidikan baru di daerah masing-masing. Masing-masing seperti tunas pisang yang tumbuh di tanah baru, beradaptasi dengan lingkungannya, tapi tetap mewarisi DNA keilmuan dan nilai-nilai dari induknya .

KH. Mahrus wafat pada 7 Agustus 2021 di usia 81 tahun. Tapi tunas-tunas yang beliau tinggalkan terus tumbuh. Berbuah. Dan kembali meninggalkan tunas-tunas baru.

Organisme Pesantren dalam Filsafat Pisang



Dalam serial tulisan sebelumnya, kita telah membahas pesantren sebagai organisme hidup. Sidogiri dengan jaringan ekonominya. Termas sebagai bank gen keilmuan. Darunnajah sebagai organisme metropolitan yang adaptif.

Filsafat pohon pisang KH. Mahrus memperkaya pemahaman ini.

Seperti pohon pisang, pesantren yang sehat adalah yang mampu:

Memberi manfaat dari seluruh bagian dirinya, bukan hanya dari satu aspek saja.

Beregenerasi dengan meninggalkan tunas-tunas baru sebelum induknya mati.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!