BMKG: Perubahan Iklim Picu Meningkatnya Bencana, Termasuk Banjir Sumatera

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:12 WIB
Perubahan iklim yang ditandai cuaca ekstrem, kata Ardhasena, juga mendorong terjadinya curah hujan ekstrem di Sumatera pada November dan Desember 2025. Curah hujan yang ekstrem antara lain disebabkan terjadinya pusaran badai, konvergensi yang membentuk awan secara masif pada wilayah pertemuan angin, dan konveksi (mekanisme perpindahan panas) akibat pemanasan permukaan air laut yang membentuk awan secara masif.

“Hingga Juni tahun ini akan terjadi curah hujan yang tinggi di kawasan Selatan khatulistiwa. Kondisi tersebut, perlu diantisipasi dengan langkah-langkah yang tepat,” lanjut Ketua Umum Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I) tersebut.

Dari data satelit BMKG, siklon tropis Senyar pada November 2025 lalu, membuat curah hujan sangat tinggi di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Lima lokasi dengan curah hujan tertinggi yaitu Singkil Utara (Aceh) dengan curah hujan 225.0 mm, dan empat wilayah di Sumbar yaitu Limau Purut 182.0 mm, Ulakan Tapakis 177.0 mm, Staklim Padang Pariaman 167.5 mm, dan Tambang Semen Padang 145.0 mm.

“Tiga wilayah di Kabupaten Langkat Sumatra Utara yaitu Gebang, Cempa, dan Secanggang juga mencatat curah hujan yang sangat tinggi pada akhir November tahun lalu,” tandasnya.

Menurutnya, normal curah hujan adalah 474 mm. Namun curah hujan pada November 2025 mencapai 1.356 mm. Dan curah hujan saat terjadi bencana adalah tiga kali dari curah hujan pada November 2025.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!