Jelang Muktamar ke-35 NU, Pengasuh Pesantren Lirboyo Figur Kompeten Jadi Rais Aam PBNU

Kamis, 05 Februari 2026 - 17:04 WIB
Keempat, visi strategis memahami internal dan eksternal NU. Menurutnya, Kiai Kafabihi bukan tipikal ulama yang hanya mengurung diri di dalam kitab. Dia memiliki kepekaan sosiologis yang tajam. Kiai Kafabihi juga sangat memahami anatomi organisasi NU, dari dinamika syuriah-tanfidziyah hingga psikologi kaum santri.

"Beliau juga mampu berdialog dengan dunia luar, baik pemerintah maupun Ormas Islam lainnya, tanpa kehilangan identitas kesantriannya. Kemampuan membaca tanda-tanda zaman ini memastikan NU tetap menjadi pemain kunci dalam diplomasi Islam moderat," ujar Kiai Imam.

Salah satu argumen paling empiris mengenai kecakapan manajerial dan kewibawaan Kiai Kafabihi adalah peristiwa Islah di Lirboyo. Keberhasilan menyatukan berbagai pandangan dalam internal keluarga besar dan alumni Lirboyo adalah prototipe dari apa yang bisa beliau lakukan untuk NU.

Menurut Kiai Imam, kepemimpinan yang efektif bukan diukur dari retorika, melainkan dari kemampuan menciptakan harmoni di tengah perbedaan. Kesolidan jaringan alumni Lirboyo di bawah bimbingan beliau adalah bukti otentik bahwa Kiai Kafabihi memiliki tangan dingin dalam mengelola struktur yang masif.

Kiai Imam juga menilai, menjadikan KH. Kafabihi Mahrus sebagai Rais Aam PBNU bukan sekadar rotasi kepemimpinan rutin. Ini adalah upaya restorasi marwah ulama. Dengan perpaduan sifat aliman, faqihan, zahidan, serta dukungan basis massa Lirboyo yang tak tertandingi, NU akan kembali menjadi payung teduh umat yang memiliki jangkar kuat untuk menghadapi badai zaman.

"Terakhir, sekali lagi beliau adalah jembatan antara kemuliaan masa lalu dan tantangan masa depan. Di tangan ulama yang mumpuni secara intelektual dan kokoh secara spiritual inilah, masa depan jam'iyyah Nahdlatul Ulama berada pada jalur yang benar," ucapnya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!