4.000 ASN akan Dilatih Menjadi Komcad, Pengamat Militer: Perencanaan Lebih Matang
Senin, 02 Februari 2026 - 12:17 WIB
Kedua, potensi ekses negatif karena mengikuti Latsarmil dapat ditekan. Salah satu kekhawatiran terkait perekrutan sipil mengikuti Latsarmil Komcad adalah potensi arogansi berlebihan yang muncul akibat merasa memiliki beking. Potensi ini tentunya juga dapat ditekan mengingat ASN telah melewati serangkaian seleksi, berbeda halnya dengan non-ASN yang tentu saja membutuhkan proses seleksi lebih lanjut.
Ketiga, dengan mendahulukan perekrutan ASN dalam program Komcad, pemerintah tentunya dapat membuat perencanaan yang lebih matang dalam menyusun kekuatan Komcad. "Hal ini didasarkan pada adanya ketersediaan database ASN, yang memungkinkan hingga detail kompetensi. Dengan begitu, pengembangan Komcad termasuk kompetensi yang dibutuhkan akan dapat dipersiapkan dengan lebih baik."
Meski demikian, kata Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) ini, ada dua hal utama yang perlu mendapatkan atensi. Pertama, pemenuhan insentif karier. Agar ada imbal balik positif untuk ASN yang direkrut, maka hendaknya Latsarmil dan pelatihan penyegaran dapat diintegrasikan dalam tata kelola karier ASN. Dengan kata lain, harus ada kebijakan konversi Latsarmil dan pelatihan penyegaran setara dengan pelatihan (diklat) dalam jabatan yang berdampak terhadap karier ASN, seperti diklat kepemimpinan.
"Kebijakan ini menjadi penting mengingat ASN tidak mudah untuk dapat meninggalkan pekerjaan selama 3 bulan berturut-turut. PP No 94/2021 tentang Disiplin PNS jelas telah mengatur batas waktu ketidakhadiran dalam menjalankan tugas. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya jalan keluar yang tentu saja berdampak positif bagi karir ASN yang mengikuti program Komcad."
Untuk itu, kata Anton, perlu dipertimbangkan adanya penyesuaian dan sinkronisasi materi Latsarmil dengan kebutuhan diklat dalam jabatan ASN. Dengan begitu, ASN yang mengikuti program Komcad mendapatkan insentif untuk karir jangka panjang.
Ketiga, dengan mendahulukan perekrutan ASN dalam program Komcad, pemerintah tentunya dapat membuat perencanaan yang lebih matang dalam menyusun kekuatan Komcad. "Hal ini didasarkan pada adanya ketersediaan database ASN, yang memungkinkan hingga detail kompetensi. Dengan begitu, pengembangan Komcad termasuk kompetensi yang dibutuhkan akan dapat dipersiapkan dengan lebih baik."
Meski demikian, kata Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) ini, ada dua hal utama yang perlu mendapatkan atensi. Pertama, pemenuhan insentif karier. Agar ada imbal balik positif untuk ASN yang direkrut, maka hendaknya Latsarmil dan pelatihan penyegaran dapat diintegrasikan dalam tata kelola karier ASN. Dengan kata lain, harus ada kebijakan konversi Latsarmil dan pelatihan penyegaran setara dengan pelatihan (diklat) dalam jabatan yang berdampak terhadap karier ASN, seperti diklat kepemimpinan.
"Kebijakan ini menjadi penting mengingat ASN tidak mudah untuk dapat meninggalkan pekerjaan selama 3 bulan berturut-turut. PP No 94/2021 tentang Disiplin PNS jelas telah mengatur batas waktu ketidakhadiran dalam menjalankan tugas. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya jalan keluar yang tentu saja berdampak positif bagi karir ASN yang mengikuti program Komcad."
Untuk itu, kata Anton, perlu dipertimbangkan adanya penyesuaian dan sinkronisasi materi Latsarmil dengan kebutuhan diklat dalam jabatan ASN. Dengan begitu, ASN yang mengikuti program Komcad mendapatkan insentif untuk karir jangka panjang.
Lihat Juga :