Nisfu Sya‘ban dan Krisis Adab di Tengah Polarisasi Umat
Senin, 02 Februari 2026 - 09:11 WIB
Ironisnya, hadis tentang Nisfu Sya‘ban justru menegaskan bahwa permusuhan adalah penghalang ampunan. Ketika malam yang dikaitkan dengan rahmat malah melahirkan saling mencela, maka yang gagal bukan tradisi atau pemurnian agama, melainkan pemahaman terhadap maqāṣid ibadah itu sendiri.
Belajar dari Ulama, Bukan dari Polarisasi
Ulama klasik telah memberi teladan yang jelas bahwa: a) Keutamaan waktu tidak selalu berarti ada ritual baku, b) Amalan ijtihadi tidak boleh dipaksakan, c) Perbedaan tidak identik dengan penyimpangan
Kaedah “lā inkāra fī masā’il al-khilāf” (tidak ada pengingkaran dalam masalah yang diperselisihkan) bukan slogan kompromistis, melainkan fondasi peradaban ilmu Islam. Tanpanya, setiap perbedaan kecil akan berubah menjadi konflik besar.
Mengembalikan Ruh Nisfu Sya‘ban
Nisfu Sya‘ban seharusnya menjadi ruang refleksi, bukan arena konfrontasi. Sejarah ulama Syam mengajarkan bahwa menghidupkan malam tersebut adalah pilihan ibadah yang sah secara ijtihadi, bukan kewajiban yang mengikat. Sejarah ulama Madinah mengingatkan bahwa meninggalkannya juga pilihan yang sah, tanpa cela.
Dalam konteks umat yang mudah terbelah, mungkin yang paling mendesak hari ini bukan memperdebatkan siapa paling benar, tetapi belajar kembali adab berbeda. Sebab agama ini tidak hanya dibangun dengan dalil dan sanad, tetapi juga dengan akhlak dan kelapangan dada.
Jika malam ampunan dosa justru melahirkan permusuhan, maka yang perlu diperbaiki bukan amalan orang lain, melainkan cara kita memandang sesama Muslim.
Wallahu a’lam.
Belajar dari Ulama, Bukan dari Polarisasi
Ulama klasik telah memberi teladan yang jelas bahwa: a) Keutamaan waktu tidak selalu berarti ada ritual baku, b) Amalan ijtihadi tidak boleh dipaksakan, c) Perbedaan tidak identik dengan penyimpangan
Kaedah “lā inkāra fī masā’il al-khilāf” (tidak ada pengingkaran dalam masalah yang diperselisihkan) bukan slogan kompromistis, melainkan fondasi peradaban ilmu Islam. Tanpanya, setiap perbedaan kecil akan berubah menjadi konflik besar.
Mengembalikan Ruh Nisfu Sya‘ban
Nisfu Sya‘ban seharusnya menjadi ruang refleksi, bukan arena konfrontasi. Sejarah ulama Syam mengajarkan bahwa menghidupkan malam tersebut adalah pilihan ibadah yang sah secara ijtihadi, bukan kewajiban yang mengikat. Sejarah ulama Madinah mengingatkan bahwa meninggalkannya juga pilihan yang sah, tanpa cela.
Dalam konteks umat yang mudah terbelah, mungkin yang paling mendesak hari ini bukan memperdebatkan siapa paling benar, tetapi belajar kembali adab berbeda. Sebab agama ini tidak hanya dibangun dengan dalil dan sanad, tetapi juga dengan akhlak dan kelapangan dada.
Jika malam ampunan dosa justru melahirkan permusuhan, maka yang perlu diperbaiki bukan amalan orang lain, melainkan cara kita memandang sesama Muslim.
Wallahu a’lam.
(cip)
Lihat Juga :