Dukungan Indonesia atas Imperium Amerika dalam Board of Peace
Senin, 26 Januari 2026 - 07:31 WIB
Isi singkatnya, “the establishment of the Board of Peace (BoP) as a transitional administration . . . . including President Trump’s peace plan in 2020 . . . di teks terakhir berisi “The United States will establish a dialogue between Israel and the Palestinians to agree on a political horizon for peaceful and prosperous coexistence”.
Proposal BoP yang diusulkan Trump di tahap awal berisi 20 poin itu (20 September 2025) pun masuk di dalam isi dokumen rangkaian Rosolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Dalam Resolusi dan proposal Trump ini tidak disebutkan “two states”.
Pada 19 Januari 2026, Trump mengeluarkan tahap kedua yang berisi 13 poin BoP. BoP ini diresmikan di Davos, Switzerland, 22 Januari 2026 di sela sela acara World Economic Forum yang ke 56. Di dalamnya juga tidak ada two state solution. Lebih parahnya, di dalamnya tidak melibatkan Palestina, tetapi justru melibatkan Israel.
Sebagaimana kita ketahui, Amerika telah keluar dari 31 bagian dari PBB (misalnya, UNHRC, UNESCO dan WHO, UNFCCC, dan lainnya) dan 35 non-PBB. Bagi Trump, PBB tidak berguna. Trump mengatakan (20/1/2026), PBB berpeluang diganti oleh BoP.
"Might," Trump mengatakan Ketika wartawan bertanya, apakah PBB akan digantikan dengan BoP? Trump berkata secara diplomatis, PBB pergerakkannya terbatas, "The U.N. just hasn't been very helpful. I am a big fan of the U.N. potential but it has never lived up to its potential".
Dalam pidatonya di Davos (22/1/2026), Trump mengatakan kembali dengan diksi yang lebih moderat bahwa PBB adalah lembaga yang tidak bisa memaksimalkan potensinya. Dengan kata lain, PBB tidak berguna karena memang tidak sesuai dengan kehendaknya.
Setelah acara di Davos, Switzerland, Trump menjelaskan kembali di pesawat (23/1/2026) bahwa PBB telah gagal menggunakan potensinya, inisiatif baru (BoP) bagus untuk PBB, “UN hasn’t live up its potential . . . that the new initiative could be “a good thing for the United Nations.””
Konteks pernyataan dan sikap Trump atas PBB dan kebanggaan diresmikannya BoP mengundang banyak respon. Presiden Brazil, Luiz Inacio Lula da Silva berpendapat bahwa Trump memang ingin menciptakan PBB baru setelah menerbitkan BoP di Switzerland, “Donald Trump of wanting to create “a new UN”” (23/1/2026).
Dalam Euronews di Davos, Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prévot berpendapat bahwa Amerika, Trump ingin menggantikan PBB dengan BoP, “Trump of seeking to "replace the United Nations' system" with his transitional "Board of Peace"” (20/1/26).
Singkat kata, apa yang dilakukan Trump adalah kebijakan Imperium Amerika yang sesungguhnya sudah dilakukan para pendahulunya. Sudah menjadi fakta umum pula jika Imperium Inggris diteruskan oleh Imperium Amerika (Strange, 1988; Bacevich, 2002; Kennedy, 2007; Hopkins, 2007; Mann, 2008; Go, 2008; Baker, 2010; Gill, 2020; Chiu, 2023).
Indonesia dalam Board of Peace
Proposal BoP yang diusulkan Trump di tahap awal berisi 20 poin itu (20 September 2025) pun masuk di dalam isi dokumen rangkaian Rosolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Dalam Resolusi dan proposal Trump ini tidak disebutkan “two states”.
Pada 19 Januari 2026, Trump mengeluarkan tahap kedua yang berisi 13 poin BoP. BoP ini diresmikan di Davos, Switzerland, 22 Januari 2026 di sela sela acara World Economic Forum yang ke 56. Di dalamnya juga tidak ada two state solution. Lebih parahnya, di dalamnya tidak melibatkan Palestina, tetapi justru melibatkan Israel.
Sebagaimana kita ketahui, Amerika telah keluar dari 31 bagian dari PBB (misalnya, UNHRC, UNESCO dan WHO, UNFCCC, dan lainnya) dan 35 non-PBB. Bagi Trump, PBB tidak berguna. Trump mengatakan (20/1/2026), PBB berpeluang diganti oleh BoP.
"Might," Trump mengatakan Ketika wartawan bertanya, apakah PBB akan digantikan dengan BoP? Trump berkata secara diplomatis, PBB pergerakkannya terbatas, "The U.N. just hasn't been very helpful. I am a big fan of the U.N. potential but it has never lived up to its potential".
Dalam pidatonya di Davos (22/1/2026), Trump mengatakan kembali dengan diksi yang lebih moderat bahwa PBB adalah lembaga yang tidak bisa memaksimalkan potensinya. Dengan kata lain, PBB tidak berguna karena memang tidak sesuai dengan kehendaknya.
Setelah acara di Davos, Switzerland, Trump menjelaskan kembali di pesawat (23/1/2026) bahwa PBB telah gagal menggunakan potensinya, inisiatif baru (BoP) bagus untuk PBB, “UN hasn’t live up its potential . . . that the new initiative could be “a good thing for the United Nations.””
Konteks pernyataan dan sikap Trump atas PBB dan kebanggaan diresmikannya BoP mengundang banyak respon. Presiden Brazil, Luiz Inacio Lula da Silva berpendapat bahwa Trump memang ingin menciptakan PBB baru setelah menerbitkan BoP di Switzerland, “Donald Trump of wanting to create “a new UN”” (23/1/2026).
Dalam Euronews di Davos, Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prévot berpendapat bahwa Amerika, Trump ingin menggantikan PBB dengan BoP, “Trump of seeking to "replace the United Nations' system" with his transitional "Board of Peace"” (20/1/26).
Singkat kata, apa yang dilakukan Trump adalah kebijakan Imperium Amerika yang sesungguhnya sudah dilakukan para pendahulunya. Sudah menjadi fakta umum pula jika Imperium Inggris diteruskan oleh Imperium Amerika (Strange, 1988; Bacevich, 2002; Kennedy, 2007; Hopkins, 2007; Mann, 2008; Go, 2008; Baker, 2010; Gill, 2020; Chiu, 2023).
Indonesia dalam Board of Peace
Lihat Juga :