Organisasi, Ego, dan Pencarian Kebersamaan
Jum'at, 26 Desember 2025 - 16:24 WIB
Psikolog David McClelland menyebutnya sebagai need for power—kebutuhan akan kekuasaan yang ada pada setiap manusia. Kekuasaan tidak selalu buruk, bahkan bisa menjadi sarana kebaikan. Namun ia menjadi berbahaya ketika mengalahkan kebutuhan akan persaudaraan dan pencapaian bersama.
Dalam konteks organisasi besar, ketika jabatan tak lagi dipahami sebagai amanah, melainkan identitas diri, ancaman terhadap posisi akan terasa sebagai ancaman terhadap eksistensi pribadi. Dari sini lahir perlawanan—bukan karena niat jahat, tetapi karena ketakutan kehilangan makna diri.
Imam al-Ghazali telah lama mengingatkan bahaya hubbul jah—cinta kedudukan—sebagai penyakit hati yang paling sulit disembuhkan. Lebih berbahaya daripada cinta harta, karena kedudukan memberi ilusi bahwa kita penting, dibutuhkan, dan bermakna.
Sosiolog Max Weber membedakan dua jenis otoritas: birokratis-rasional dan kharismatik-tradisional. PBNU, seperti banyak organisasi keagamaan di Indonesia, berada di persimpangan keduanya.
Di satu sisi ada struktur formal: Syuriah, Tanfidziyah, AD/ART, dan mekanisme keputusan. Di sisi lain ada kharisma kiai, genealogi keilmuan, dan barokah pesantren. Konflik muncul ketika dua logika ini berbenturan. Masing-masing memiliki legitimasi yang sah, dan di sinilah persoalan menjadi rumit.
Robert K. Merton menyebut fenomena ini sebagai goal displacement—ketika organisasi terjebak pada prosedur dan melupakan tujuan asalnya. PBNU didirikan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Namun ketika energi habis untuk konflik internal, siapa yang mendampingi umat di akar rumput?
Seorang pengurus NU di daerah pernah menulis dengan getir, “Kiai-kiai di Jakarta ribut soal kursi. Kami di desa bingung menjelaskan kepada jamaah: NU ini sebenarnya sedang apa.”
Dalam konteks organisasi besar, ketika jabatan tak lagi dipahami sebagai amanah, melainkan identitas diri, ancaman terhadap posisi akan terasa sebagai ancaman terhadap eksistensi pribadi. Dari sini lahir perlawanan—bukan karena niat jahat, tetapi karena ketakutan kehilangan makna diri.
Imam al-Ghazali telah lama mengingatkan bahaya hubbul jah—cinta kedudukan—sebagai penyakit hati yang paling sulit disembuhkan. Lebih berbahaya daripada cinta harta, karena kedudukan memberi ilusi bahwa kita penting, dibutuhkan, dan bermakna.
Organisasi: Sistem dan Jiwa
Sosiolog Max Weber membedakan dua jenis otoritas: birokratis-rasional dan kharismatik-tradisional. PBNU, seperti banyak organisasi keagamaan di Indonesia, berada di persimpangan keduanya.
Di satu sisi ada struktur formal: Syuriah, Tanfidziyah, AD/ART, dan mekanisme keputusan. Di sisi lain ada kharisma kiai, genealogi keilmuan, dan barokah pesantren. Konflik muncul ketika dua logika ini berbenturan. Masing-masing memiliki legitimasi yang sah, dan di sinilah persoalan menjadi rumit.
Robert K. Merton menyebut fenomena ini sebagai goal displacement—ketika organisasi terjebak pada prosedur dan melupakan tujuan asalnya. PBNU didirikan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Namun ketika energi habis untuk konflik internal, siapa yang mendampingi umat di akar rumput?
Seorang pengurus NU di daerah pernah menulis dengan getir, “Kiai-kiai di Jakarta ribut soal kursi. Kami di desa bingung menjelaskan kepada jamaah: NU ini sebenarnya sedang apa.”
Merawat Kembali “Kita”
Lihat Juga :