Hadapi Ancaman Siber, Pertahanan Indonesia Didorong Beradaptasi

Kamis, 11 Desember 2025 - 19:32 WIB
Royke menjelaskan, kerentanan terjadi pada infrastruktur energi, khususnya jaringan listrik Jawa–Bali yang menyuplai lebih dari 60% kebutuhan nasional. Penggunaan perangkat lama tanpa pembaruan, protokol SCADA minim enkripsi, serta antarmuka sistem yang masih terhubung ke internet menjadi celah yang berpotensi dieksploitasi pihak asing maupun kelompok kriminal.

Integrasi IoT dan akses jarak jauh yang belum sepenuhnya terlindungi turut memperluas permukaan serangan. Pengalaman pemadaman listrik besar pada 2019 serta gangguan jaringan di Bali pada 2025 kembali menjadi pengingat bahwa serangan terhadap sektor energi dapat berdampak luas pada ekonomi dan kepercayaan publik.

Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI/ML) di sektor finansial, e-commerce, telekomunikasi, layanan publik, hingga pertahanan terus meningkat. Namun, tanpa verifikasi ketat terhadap data dan model yang digunakan, sistem berisiko dimanipulasi atau dieksploitasi.

Baca juga: Indonesia Butuh Ekosistem Keamanan Siber yang Tangguh dan Terhubung

Para ahli menilai ketergantungan pada teknologi impor tanpa pengujian menyeluruh dapat membuka ruang intervensi. Karena itu, penguatan standar keamanan, tata kelola AI, serta kemandirian teknologi menjadi kebutuhan strategis agar pemanfaatannya benar-benar memperkuat ekonomi dan pertahanan negara.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!