Rahmah El Yunusiyyah sang Pahlawan Nasional
Jum'at, 14 November 2025 - 15:54 WIB
Sejak saat itu, Kak Amah pun mengungkap kegelisahannya pada Labay. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrahnya dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. "Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika Kakanda bisa, kenapakah saya, adiknya, tidak bisa. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?" (Boekoe Peringatan 15 Tahoen Dinijjahschool Poetri Padang Panjang, 1938).
Labay pun tersenyum dan membolehkan adiknya untuk membuka sekolah sendiri untuk perempuan. Jadi, maka jadilah. Pada 1 November 1923, Rahmah membuka Madrasah Diniyah Li al-Banat sebagai bagian dari Diniyahschool yang dikhususkan untuk murid-murid putri.
Ia mengatur kegiatan belajar mengajar di masjid yang berseberangan dengan rumah kediamannya di Jalan Lubuk Mata Kucing (kini, Jalan Abdul Hamid Hakim). Rasuna Said, Sitti Nansiah, dan Djawana Basyir, termasuk guru terawal, sementara Rahmah merangkap sebagai guru dan pimpinan.
Mulanya terdapat 71 orang murid perempuan yang kebanyakan adalah ibu-ibu muda. Pelajaran diberikan selama 2,5 jam meliputi dasar pengetahuan agama, gramatika bahasa Arab, dan ilmu alat. Proses pembelajaran masih memakai sistem halaqah. Para guru memakai buku-buku berbahasa Arab dan menerangkannya dengan bahasa Melayu. Dengan hadirnya bagian putri, Diniyahschool peninggalan Zainuddin berangsur-angsur hanya dihadiri oleh murid-murid putra. Madrasah Diniyah Li al-Banat yang didirikan Rahmah menjadi populer dengan nama Diniyah Putri (Rasjad, 1991).
Grafik murid Diniyah Puteri pun makin melejit tinggi. Pada 1928 tercatat 200 murid, dua tahun kemudian naik menjadi 350 orang, dan 400 orang murid pada 1935. Catatan ini menandai awal mercusuar lembaga pendidikan khusus perempuan di Indonesia. Murid-murid Kak Amah tidak saja berasal dari Minangkabau, juga berdatangan dari Benkoelen, Tapanuli, Deli, Aceh, hingga ke tanah Malaya di Selangor (Deliar Noer, 1991).
Tujuh tahun membina Diniyah Puteri, Majalah Aboean Goeroe-Goeroe (AGG) milik perkumpulan para guru di Sumatera Barat menorehkan tinta emas untuk Kak Amah. Pada Mei 1930 majalah AGG menulis, Rahmah adalah orang pertama yang berkiprah untuk kemajuan anak-anak perempuan di Minangkabau. Rahmah dipuji sebagai sosok yang sedikit bicara dan tertawa, tetapi banyak bekerja.
Sejak membangun Madrasah Diniyah Li al-Banat, menolak bekerja sama dengan Asisten Residen Padang Panjang. Bahkan, ketika pemerintah kolonial Belanda melalui Van Straten, controleur Padang Panjang menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri mau menerima subsidi dari pemerintah, ia pun dengan tegas menolaknya.
Baca Juga: Rahmah El Yunusiyyah Pahlawan Nasional, Keluarga Ucapkan Terima Kasih ke Prabowo
Kedua, di jantung Persatuan Murid Diniyah School berdiri gerakan kepanduan yang dinamakan Kepanduan Indonesia Muslim. Kepanduan ini unik dari namanya. Mengusung dua aliran yang berbeda di masa pergerakan, tetapi dilebur menjadi satu, yakni Indonesia yang mewakili kata nasionalisme dan Islam. Kepanduan ini resmi berdiri pada Juli 1931 dan menjadi saingan dari kepanduan El-Hilaal yang menjadi bagian dari organisasi pergerakan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI).
Ketiga, tidak hanya sekadar sebagai organisasi padvinders, Kepanduan Indonesia Muslim menjadi pengusung utama organisasi pergerakan yang didirikan oleh Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, yakni Pendidikan Nasional Indonesia atau yang dikenal dalam narasi sejarah nasional sebagai PNI-Baru.
Pada Desember 1932, berdirilah PNI Baru Cabang Padang Panjang, Bukittinggi, Maninjau, Pariaman, dan Padang. Masing-masing cabang, diketuai oleh Leon Salim, Rahimi, Darwis Thaib, S. Thaib, dan M. Nur Arif (Salim, 1980: 24). Sejak cabang berdiri di Padang Panjang, plang nama PMDS diturunkan, berganti dengan PNI Baru. Peristiwa ini menjadi torehan sejarah yang menandai di kota kecil bernama Padang Panjang, dua sekoleh partikelir mengusung warna pergerakan. Sumatra Thawalib dengan PERMI dan Diniyahschool dengan PNI-Baru.
Keempat, pada 1933, Rahmah memimpin panitia penolakan Ordonansi Sekolah Liar. Bila ia menolak, konsekuensinya adalah sekolahnya terancam ditutup paksa oleh pemerintah. Kak Amah pun dituduh membicarakan politik sehingga mengakibatkannya didenda f. 100 oleh Lanraad Fort de Kock.
Labay pun tersenyum dan membolehkan adiknya untuk membuka sekolah sendiri untuk perempuan. Jadi, maka jadilah. Pada 1 November 1923, Rahmah membuka Madrasah Diniyah Li al-Banat sebagai bagian dari Diniyahschool yang dikhususkan untuk murid-murid putri.
Ia mengatur kegiatan belajar mengajar di masjid yang berseberangan dengan rumah kediamannya di Jalan Lubuk Mata Kucing (kini, Jalan Abdul Hamid Hakim). Rasuna Said, Sitti Nansiah, dan Djawana Basyir, termasuk guru terawal, sementara Rahmah merangkap sebagai guru dan pimpinan.
Mulanya terdapat 71 orang murid perempuan yang kebanyakan adalah ibu-ibu muda. Pelajaran diberikan selama 2,5 jam meliputi dasar pengetahuan agama, gramatika bahasa Arab, dan ilmu alat. Proses pembelajaran masih memakai sistem halaqah. Para guru memakai buku-buku berbahasa Arab dan menerangkannya dengan bahasa Melayu. Dengan hadirnya bagian putri, Diniyahschool peninggalan Zainuddin berangsur-angsur hanya dihadiri oleh murid-murid putra. Madrasah Diniyah Li al-Banat yang didirikan Rahmah menjadi populer dengan nama Diniyah Putri (Rasjad, 1991).
Grafik murid Diniyah Puteri pun makin melejit tinggi. Pada 1928 tercatat 200 murid, dua tahun kemudian naik menjadi 350 orang, dan 400 orang murid pada 1935. Catatan ini menandai awal mercusuar lembaga pendidikan khusus perempuan di Indonesia. Murid-murid Kak Amah tidak saja berasal dari Minangkabau, juga berdatangan dari Benkoelen, Tapanuli, Deli, Aceh, hingga ke tanah Malaya di Selangor (Deliar Noer, 1991).
Tujuh tahun membina Diniyah Puteri, Majalah Aboean Goeroe-Goeroe (AGG) milik perkumpulan para guru di Sumatera Barat menorehkan tinta emas untuk Kak Amah. Pada Mei 1930 majalah AGG menulis, Rahmah adalah orang pertama yang berkiprah untuk kemajuan anak-anak perempuan di Minangkabau. Rahmah dipuji sebagai sosok yang sedikit bicara dan tertawa, tetapi banyak bekerja.
Apakah Kak Amah Alergi Politik?
Pertanyaan ini tentu menggelitik. Banyak yang menegarai sejak melarang murid sekaligus kolega gurunya berpolitik praktis di Diniyah Puteri menandakan Kak Amah alergi dengan persoalan politik. Namun apakan benar, ia benar-benar alergi dengan persoalan politik di masa pergerakan? Beberapa catatan ini akan membantahnya.Sejak membangun Madrasah Diniyah Li al-Banat, menolak bekerja sama dengan Asisten Residen Padang Panjang. Bahkan, ketika pemerintah kolonial Belanda melalui Van Straten, controleur Padang Panjang menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri mau menerima subsidi dari pemerintah, ia pun dengan tegas menolaknya.
Baca Juga: Rahmah El Yunusiyyah Pahlawan Nasional, Keluarga Ucapkan Terima Kasih ke Prabowo
Kedua, di jantung Persatuan Murid Diniyah School berdiri gerakan kepanduan yang dinamakan Kepanduan Indonesia Muslim. Kepanduan ini unik dari namanya. Mengusung dua aliran yang berbeda di masa pergerakan, tetapi dilebur menjadi satu, yakni Indonesia yang mewakili kata nasionalisme dan Islam. Kepanduan ini resmi berdiri pada Juli 1931 dan menjadi saingan dari kepanduan El-Hilaal yang menjadi bagian dari organisasi pergerakan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI).
Ketiga, tidak hanya sekadar sebagai organisasi padvinders, Kepanduan Indonesia Muslim menjadi pengusung utama organisasi pergerakan yang didirikan oleh Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, yakni Pendidikan Nasional Indonesia atau yang dikenal dalam narasi sejarah nasional sebagai PNI-Baru.
Pada Desember 1932, berdirilah PNI Baru Cabang Padang Panjang, Bukittinggi, Maninjau, Pariaman, dan Padang. Masing-masing cabang, diketuai oleh Leon Salim, Rahimi, Darwis Thaib, S. Thaib, dan M. Nur Arif (Salim, 1980: 24). Sejak cabang berdiri di Padang Panjang, plang nama PMDS diturunkan, berganti dengan PNI Baru. Peristiwa ini menjadi torehan sejarah yang menandai di kota kecil bernama Padang Panjang, dua sekoleh partikelir mengusung warna pergerakan. Sumatra Thawalib dengan PERMI dan Diniyahschool dengan PNI-Baru.
Keempat, pada 1933, Rahmah memimpin panitia penolakan Ordonansi Sekolah Liar. Bila ia menolak, konsekuensinya adalah sekolahnya terancam ditutup paksa oleh pemerintah. Kak Amah pun dituduh membicarakan politik sehingga mengakibatkannya didenda f. 100 oleh Lanraad Fort de Kock.
Lihat Juga :