Tiga Suara Indonesia di Roma: JK, Nasaruddin, dan Arsjad dalam Forum Perdamaian Dunia

Sabtu, 01 November 2025 - 11:29 WIB
JK berbicara dari pengalaman panjangnya sebagai mediator konflik di Poso dan Aceh. Dia pernah melihat bagaimana dendam bisa meluluhlantakkan tatanan sosial, tapi juga menyaksikan bagaimana hati yang bersedia mendengar dapat menyembuhkan luka.

Sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, dia menegaskan masjid tidak boleh sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi harus menjadi ruang sosial yang menumbuhkan keadaban umat dan solidaritas kemanusiaan.

Dalam pandangannya, rumah ibadah adalah tempat terbaik untuk menanam benih perdamaian. “Beranilah mewujudkan perdamaian. Jangan hanya mengambil keuntungan dari konflik,” ucapnya.

Beberapa jam setelah pidato JK, Nasaruddin Umar, Menag yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal memberi bobot spiritual tersendiri pada pidatonya. Dia berbicara lembut namun tajam tentang bahaya politisasi agama yang menggerogoti fondasi perdamaian. “Ancaman terbesar bagi perdamaian bukan agama melainkan penyalahgunaan agama,” ujarnya.

Dia memaparkan gagasan tentang Islam rahmatan lil alamin tentang bagaimana ajaran kasih dan kedamaian bisa menjadi perekat di tengah perbedaan.

Dia membawa Indonesia sebagai contoh konkret, sebuah laboratorium kerukunan dunia di mana umat beragama hidup berdampingan dalam saling menghormati. Bagi Nasaruddin, pengalaman keberagaman Indonesia adalah warisan spiritual yang bisa dibagikan kepada dunia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!