Manusia Naluri Berkuasa dan Berperang

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 20:12 WIB
Salim Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga. Foto/istimewa
Salim

Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga



BUNYI sirene kendaraan pejabat yang menerobos dan membuka keramaian dan kepadatan lalu lintas Jakarta sudah tidak kedengaran lagi bisingnya. Suara sirene dan sikap sopir pejabat yang agresif membahayakan pengguna jalan lain. Sampai kapan? Padahal yang mengendarai juga belum tentu pejabat itu sendiri, kadang istri, anak, teman bahkan rekanannya. Itulah salah satu hasrat manusia keinginan untuk menjabat, berkuasa dan mengendalikan kekuasaan.

Dari Machiavelli, Dacher Keltner seorang politik yang meneliti dan menguji karya Machiavelli meskipun menemukan hal yang berbeda, yaitu ketika orang mendapatkan kekuasaan, perilaku mereka menjadi tak bersahabat. Mereka cenderung bersikap semaunya, tanpa peduli pada kebutuhan orang lain. Mereka menjadi orang yang rakus dan ambisius.

Mungkinkah penelitian Keltner ini hanyalah perkecualian saja? Ternyata tidak. Banyak penelitian keluar dengan kesimpulan yang sama: ketika manusia memegang kekuasaan, ia menjadi manusia yang tidak bersahabat. Kekuasaan mungkin akan mengubah hakekat manusia, karena hakekat manusia itu adalah suci. Ia dibentuk sesuai dengan keadaan. Setiap orang terlahir baik, bagaikan malaikat. Percikan kekuasaan mengubahnya, sehingga ia bisa menjadi jahat, bengis, dan dapat seperti iblis.

Perlu diketahui bahwa keinginan atau kehendak untuk berkuasa ini bukan hanya keinginan untuk menguasai dunia seperti Hitler atau Genghis Khan, atau keinginan untuk menjadi Tuhan seperti roman Musa dalam kitab suci agama-agama Abrahamik. Kehendak untuk berkuasa ini jauh lebih membumi, dimiliki oleh semua orang yang hidup dan memiliki pikiran.

Lebih jauh, Nietzsche mengelaborasikan pemikiran tentang kekuasaan ini dalam On the Genealogy of Morals dengan menggunakan dua terma, yaitu Nietzsche “moralitas tuan” dan “moralitas budak”. Moralitas tuan adalah caranya menyebut mereka yang mengekspresikan kehendak untuk berkuasa secara langsung, hal ini sebab mereka jauh lebih kuat, sehat, dan memiliki rasa percaya diri untuk memaksakan nilai-nilai mereka pada dunia.

Di sisi lain, mereka yang lemah atau memiliki moralitas budak akan mengekspresikan kehendak untuk berkuasa dengan cara menyelundupkan nilai-nilai mereka dengan cara yang lebih licik dan tidak langsung, dengan membuat yang kuat merasa bersalah atas kesehatan, kekuatan, egoisme, dan harga diri mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!