Sejumlah Organisasi Kepemudaan dan NGO Deklarasi Jaga Indonesia
Jum'at, 03 Oktober 2025 - 07:45 WIB
Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar mengingatkan pentingnya memahami geopolitik sebagai kunci menjaga Indonesia. “Kalau bicara menjaga bangsa, kita tidak bisa buta pada dinamika dunia. Pemuda harus paham geopolitik nasional maupun internasional agar tidak mudah diperalat isu-isu global yang bisa memecah belah. Menjaga Indonesia bukan hanya soal retorika, tetapi juga kecerdasan membaca situasi global. Generasi muda dituntut tidak hanya bersemangat, tetapi juga strategis," ujar founder The IDE Indonesia ini.
Dalam forum tersebut, Makmun Rasyid dari Center for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR) menyoroti fenomena hoaks yang semakin masif. Menurutnya, penyebaran informasi palsu menjadi salah satu instrumen yang sengaja digunakan untuk melemahkan persatuan.
“Pancasila memang sakti, tetapi kita sebagai bangsa belum sepenuhnya sakti. Masih ada upaya infiltrasi dan provokasi yang mencoba menggerus persatuan. Hoaks bukan hanya menyesatkan, tapi juga memecah belah, membuat masyarakat saling curiga bahkan saling bermusuhan dan mengadu domba antara aparat dan rakyat,” ungkapnya. Baca juga: Diiringi Lagu Gugur Bunga, Prabowo-Gibran Tinjau Sumur Maut Lubang Buaya
Ketua Umum Arus informasi Santri Nusantara (AISNU) Ulinnuhaa Lazulfaa berharap pertemuan dan deklarasi Jaga Indonesia bisa memberikan dampak ke depan untuk bangsa. "Kalau bicara jaga Indonesia, santri punya sejarah panjang menjaga Indonesia. Kalau berbicara keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia, jangan sampai pak Prabowo bekerja sendiri. Bahwa boleh Masyarakat memberikan kritik, tapi jangan sampai ada oknum yang ingin mengadu domba Masyarakat dan pemerintah" tegasnya.
Dalam forum tersebut, Makmun Rasyid dari Center for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR) menyoroti fenomena hoaks yang semakin masif. Menurutnya, penyebaran informasi palsu menjadi salah satu instrumen yang sengaja digunakan untuk melemahkan persatuan.
“Pancasila memang sakti, tetapi kita sebagai bangsa belum sepenuhnya sakti. Masih ada upaya infiltrasi dan provokasi yang mencoba menggerus persatuan. Hoaks bukan hanya menyesatkan, tapi juga memecah belah, membuat masyarakat saling curiga bahkan saling bermusuhan dan mengadu domba antara aparat dan rakyat,” ungkapnya. Baca juga: Diiringi Lagu Gugur Bunga, Prabowo-Gibran Tinjau Sumur Maut Lubang Buaya
Ketua Umum Arus informasi Santri Nusantara (AISNU) Ulinnuhaa Lazulfaa berharap pertemuan dan deklarasi Jaga Indonesia bisa memberikan dampak ke depan untuk bangsa. "Kalau bicara jaga Indonesia, santri punya sejarah panjang menjaga Indonesia. Kalau berbicara keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia, jangan sampai pak Prabowo bekerja sendiri. Bahwa boleh Masyarakat memberikan kritik, tapi jangan sampai ada oknum yang ingin mengadu domba Masyarakat dan pemerintah" tegasnya.
(poe)
Lihat Juga :