Di Balik Amarah Massa Gelombang Protes Anti-Imigran Global

Kamis, 02 Oktober 2025 - 10:16 WIB
Sementara itu, di Australia, masyarakat menghadapi krisis perumahan yang tak kalah memprihatinkan. Harga sewa yang melonjak gila-gilaan, sementara tingkat kekosongan properti mencapai titik terendah dalam sejarah, membuat generasi muda terjebak dalam siklus ketidakmampuan memiliki rumah. Ketika pemerintah melalui Australian Bureau of Statistics (ABS) mengumumkan bahwa lebih dari 518.000 imigran baru datang pada tahun 2023, narasi yang muncul di masyarakat bahwa “pendatang mengambil rumah kami” bukan lagi sekadar slogan. Itu adalah realitas yang terasa sangat menyakitkan bagi mereka yang setiap minggu ditolak saat mencari tempat tinggal.

Tsunami Kedua: Krisis Identitas Nasional



Tsunami kedua yang menyertai gelombang protes ini adalah krisis identitas nasional yang melanda banyak negara. Dalam dunia yang semakin terhubung, di mana perbatasan semakin kabur, banyak orang mulai merasakan bahwa “identitas mereka” sedang terkikis. Perubahan demografis yang cepat dan arus globalisasi yang deras membuat mereka merasa asing di negara mereka sendiri.

Jepang, yang selama ini dikenal sebagai benteng homogenitas budaya, kini menjadi episentrum dari kegelisahan ini. Gagasan tentang kedatangan pekerja asing dalam jumlah besar, seperti rencana visa bagi pekerja IT dari India, terasa seperti ancaman terhadap esensi dari apa yang selama ini dianggap sebagai “budaya Jepang”.

Negara yang sebelumnya kaya akan kesatuan budaya ini kini dihadapkan pada kenyataan pahit: resesi yang mengancam, sementara prospek kompetisi dengan tenaga kerja asing semakin nyata. Di jalanan Tokyo, teriakan "Lindungi Budaya Jepang" semakin lantang, mencerminkan ketakutan mendalam akan hilangnya jati diri bangsa (East Asia Forum, 2025).

Di Inggris, dari hasil sensus yang dilakukan Office for National Statistic (ONS) pada tahun 2021 untuk Inggris dan Wales, hanya 46,2% dari populasi yang mengidentifikasi diri sebagai Kristen, turun signifikan dari 59,3% pada Sensus 2011. Ini menandai pertama kalinya dalam sejarah sensus Inggris dan Wales bahwa proporsi pemeluk agama Kristen turun di bawah setengah populasi, sebuah momen simbolis yang menggambarkan betapa cepatnya perubahan budaya di negara tersebut.

Bagi sebagian warga, perasaan “terasing di negeri sendiri” bukan hanya terkait dengan perubahan agama, tetapi dengan perubahan sosial yang terasa terlalu cepat dan asing. Fenomena ini menjadi bahan bakar emosional yang sangat mudah disulut, menciptakan ketegangan yang meluas di tengah masyarakat.

Tsunami Ketiga: Panggung Para Populis

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!