Aspertina: Solidaritas Antar Etnik Efektif Tangkal Upaya Pemecahbelahan Bangsa

Minggu, 14 September 2025 - 20:09 WIB
“Sejak pembangunan bangsa Indonesia mulai berlangsung selalu terdapat kelompok Tionghoa yang memilih berpihak pada bangsa Indonesia yang mereka anggap sebagai bangsa mereka sendiri. Alih-alih berpihak pada kekuatan asing baik kolonial Belanda ataupun China,” ujar Sekretaris FSI Muhammad Farid.

Dalam berbagai zaman baik di masa lalu maupun sekarang ini, tak sedikit tokoh-tokoh Tionghoa dari berbagai usia turut terlibat dalam aktivisme yang bertujuan membela masyarakat sekaligus menyerukan adanya pemerintahan yang lebih baik di negeri ini.

“Pada masa lalu, kita mengenal nama-nama seperti Soe Hok Gie, Yap Thiam Hien, Ester Indahyani Yusuf, Hendrawan Sie, dan Yap Yun Hap, yang bukan saja berjuang, tetapi mengorbankan dirinya bagi perjuangan demi bangsa dan masyarakat yang lebih baik,” tutur Farid.

Menurut dia, aktivisme yang memperlihatkan ke-Indonesia-an dari etnik Tionghoa bukan hanya cerita dari masa lalu, tetapi masih berlangsung hingga hari ini. Generasi muda Tionghoa terlihat menekankan ke-Indonesia-an mereka sambil tetap berupaya memahami identitas etnik dan budaya mereka.

“Melalui akun-akun media sosial, mereka menggunakan istilah Chindo dan dengan bangga menekankan ke-Indonesia-an mereka,” kata Farid yang juga Dosen Hubungan Internasional Universitas Presiden itu.

Peneliti BRIN Lidya Christin Sinaga berbagai cerita mengenai pandangan Tionghoa merupakan hal yang sangat penting untuk disebarluaskan kepada masyarakat Indonesia demi mempertahankan memori kolektif bangsa.

“Upaya merawat memori kolektif bangsa ini penting karena suatu peristiwa publik meninggalkan jejak yang mendalam pada mereka yang mengalaminya, terutama orang muda yang sedang dalam proses mengonstruksi identitas,” ujar Lidya.

Tionghoa dalam memori kolektif dan historiografi, khususnya sepanjang era Orde Baru cenderung diingat sekaligus dihapuskan. Itulah sebabnya Lidya menganggap upaya memelihara atau membangkitkan kembali memori kolektif seperti membangun Museum Benteng Heritage di Tangerang, Museum Kebudayaan Indonesia Tionghoa di Bandung, dan Perpustakaan Medayu Agung di Surabaya, sebagai upaya yang sangat penting.

Sejarawan Didi Kwartanada menekankan kepada tokoh-tokoh aktivis Tionghoa yang berkiprah sebelum berdirinya RI semasa pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!