Prosumenesia: Era Baru Konsumen Jadi Produsen Digital
Kamis, 11 September 2025 - 06:29 WIB
Hal ini sejalan dengan konsep "industri kesadaran" (idea-reality construction) yang dikembangkan oleh Dallas W. Smythe, di mana media tidak hanya merepresentasikan realitas tetapi juga mengkonstruksi cara pandang dan perilaku masyarakat.
Contoh lainnya adalah fenomena marriage is scary yang viral di TikTok pertengahan 2024. Tren ini mengungkapkan kekhawatiran dan keraguan terhadap pernikahan yang disebabkan oleh berbagai alasan personal maupun sosial.
Analisis dalam buku menunjukkan bagaimana prosumen tidak hanya mengonsumsi tren ini, tetapi juga memproduksi konten serupa yang memperkuat narasi tertentu tentang pernikahan. Fenomena ini membuktikan kekuatan Prosumenesia dalam membentuk opini publik melalui konten yang diproduksi secara kolektif oleh pengguna media sosial.
Buku ini juga menjabarkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) melalui kasus viralnya konsumsi Cokelat Dubai. Konsep hiperrealitas Jean Baudrillard menjelaskan bagaimana prosumen berpartisipasi dalam menciptakan dan menyebarkan hiperrealitas melalui konten yang dihasilkan. Produk yang mungkin biasa saja berubah menjadi objek desire massal karena representasi yang dikonstruksi secara kolektif di media social.
Tetapi tidak semua dampak Prosumenesia bersifat konsumeristik. Buku ini menganalisis potensi positif fenomena prosumen dalam konteks aktivisme digital. Gerakan #PeringatanDarurat menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana prosumen di media sosial mampu mengorganisir diri dan menyebarkan isu sosial dengan cepat dan masif. Analisis dalam buku mengungkap bagaimana pemberitaan media melalui framing dapat memengaruhi tindakan konektif individu untuk terlibat dalam gerakan sosial.
Teori Komunikasi di Era Prosumen
Buku Prosumenesia tidak hanya menyajikan fenomena, tetapi juga menghadirkan kerangka teoretis untuk memahami transformasi digital Indonesia. Para penulis menggunakan beberapa teori komunikasi kontemporer, termasuk teori komodifikasi khalayak yang dikembangkan Dallas W. Smythe, yang berevolusi menjadi "komodifikasi prosumer".
Di mana pengguna tidak hanya dikonsumsi tetapi juga terlibat aktif dalam produksi konten yang menguntungkan platform. Hal ini memunculkan konsep "digital labour" yang menunjukkan aktivitas online yang terlihat rekreasional namun sebenarnya merupakan bentuk kerja tak terbayar.
Buku ini juga mengeksplorasi relevansi kembali teori efek media dalam konteks prosumen. Pengaruh media yang bergeser dari efek kuat media tradisional menuju pengaruh kuat media baru.
Metodologi, Pendekatan, dan Tantangan
Contoh lainnya adalah fenomena marriage is scary yang viral di TikTok pertengahan 2024. Tren ini mengungkapkan kekhawatiran dan keraguan terhadap pernikahan yang disebabkan oleh berbagai alasan personal maupun sosial.
Analisis dalam buku menunjukkan bagaimana prosumen tidak hanya mengonsumsi tren ini, tetapi juga memproduksi konten serupa yang memperkuat narasi tertentu tentang pernikahan. Fenomena ini membuktikan kekuatan Prosumenesia dalam membentuk opini publik melalui konten yang diproduksi secara kolektif oleh pengguna media sosial.
Buku ini juga menjabarkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) melalui kasus viralnya konsumsi Cokelat Dubai. Konsep hiperrealitas Jean Baudrillard menjelaskan bagaimana prosumen berpartisipasi dalam menciptakan dan menyebarkan hiperrealitas melalui konten yang dihasilkan. Produk yang mungkin biasa saja berubah menjadi objek desire massal karena representasi yang dikonstruksi secara kolektif di media social.
Tetapi tidak semua dampak Prosumenesia bersifat konsumeristik. Buku ini menganalisis potensi positif fenomena prosumen dalam konteks aktivisme digital. Gerakan #PeringatanDarurat menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana prosumen di media sosial mampu mengorganisir diri dan menyebarkan isu sosial dengan cepat dan masif. Analisis dalam buku mengungkap bagaimana pemberitaan media melalui framing dapat memengaruhi tindakan konektif individu untuk terlibat dalam gerakan sosial.
Teori Komunikasi di Era Prosumen
Buku Prosumenesia tidak hanya menyajikan fenomena, tetapi juga menghadirkan kerangka teoretis untuk memahami transformasi digital Indonesia. Para penulis menggunakan beberapa teori komunikasi kontemporer, termasuk teori komodifikasi khalayak yang dikembangkan Dallas W. Smythe, yang berevolusi menjadi "komodifikasi prosumer".
Di mana pengguna tidak hanya dikonsumsi tetapi juga terlibat aktif dalam produksi konten yang menguntungkan platform. Hal ini memunculkan konsep "digital labour" yang menunjukkan aktivitas online yang terlihat rekreasional namun sebenarnya merupakan bentuk kerja tak terbayar.
Buku ini juga mengeksplorasi relevansi kembali teori efek media dalam konteks prosumen. Pengaruh media yang bergeser dari efek kuat media tradisional menuju pengaruh kuat media baru.
Metodologi, Pendekatan, dan Tantangan
Lihat Juga :