Pertemuan Prabowo-Ulama Diharapkan Redakan Eskalasi Politik dan Sosial yang Memanas

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 23:58 WIB
"Kami menilai, kehadiran ulama dalam momen ini adalah kekuatan moral yang strategis. Mereka bukan hanya penyejuk hati umat, tetapi juga penuntun arah bangsa. Namun, ulama tidak boleh dibiarkan berdiri sendiri. Negara harus bergandengan tangan dengan para kiai, habib, dan cendekiawan Muslim untuk membangun dialog kebangsaan yang tulus. Dalam konteks ini, JAN menekankan pentingnya kontinuitas pertemuan, bukan sebatas seremoni belaka," kata Ketua Jaringan Aktivis Nusantara Romadhon Jasn, Sabtu (30/8/2025).

Presiden juga diingatkan untuk tidak hanya mengandalkan legitimasi moral dari tokoh agama. Legitimasi politik sejati lahir dari kebijakan yang berpihak pada rakyat. Ketika harga bahan pokok menekan, ketika lapangan kerja masih terbatas, dan ketika disparitas sosial semakin tajam, rakyat tidak cukup hanya dijanjikan persatuan. Mereka menanti bukti nyata dari pemerintah. Itulah ukuran kedewasaan negara dalam menjawab gejolak. Romadhon Jasn menegaskan hal ini sebagai prioritas.

Baca juga: Presiden Prabowo Perintahkan TNI-Polri Tindak Tegas Massa Anarkis

"Di sisi lain, ulama memiliki tugas keagamaan sekaligus kebangsaan. Dalam sejarah Indonesia, suara ulama kerap menjadi penentu arah bangsa, baik dalam perlawanan terhadap penjajahan maupun dalam merawat kemerdekaan," ujarnya.

"Karena itu, ajakan agar Gus Baha, Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat dan para ulama di tiap wilayah turun bersuara, harus dimaknai sebagai panggilan kebangsaan. Ulama harus mengingatkan umat untuk tetap tenang, tapi juga berani menyuarakan kritik demi kebaikan bersama," ungkap Romadhon.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!