Toraja dalam Lensa: Saat Leluhur Bicara lewat Cahaya
Sabtu, 30 Agustus 2025 - 16:04 WIB
Menurut Ketua Pelaksana Ian Sutisna, di era modern yang sering mengaburkan identitas, pameran ini menjadi pengingat bahwa budaya adalah jangkar. “Toraja berdiri sebagai saksi bahwa kehidupan dan kematian dapat disatukan lewat penghormatan pada leluhur,” katanya.
Ester, salah satu pengunjung pameran merasa kagum atas pameran foto yang menampilkan keindahan Budaya Tana Toraja. Pameran “Toraja, Rumah Para Leluhur: Tradisi yang Menantang Waktu” ini bukan hanya sekadar visual melainkan perjalanan batin leluhur yang ditangkap sempurna melalui lensa fotografer.
“Seakan sebuah undangan untuk berhenti sejenak, menatap foto-foto itu, dan mendengar bisikan leluhur yang berbicara lewat cahaya,” ucapnya.
Pameran digelar oleh Forsednibudpar dan Galeri Mata Nusantara (GMN) ini bertujuan merawat kekayaan seni budaya bangsa Indonesia dan mewariskannya kepada generasi muda melalui data dan jejak rekam digital serta memperluasnya melalui pameran foto, diskusi budaya maupun buku dan media sosial. Gratis dan terbuka untuk umum, acara berlangsung mulai 27 Agustus-7 September 2025.
Tiga fotografer menampilkan 15 karya foto dengan tema beragam, unik, menarik dan menggugah penonton. Selain itu di esok harinya Kamis, 28 Agustus pada pukul 15.00 WIB diisi dengan Diskusi Budaya dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang mengupas Lunturnya Nilai Adat & Tradisi di mana upacara adat seperti Rambu Solo’ atau Ma’nene berpotensi ditinggalkan generasi muda karena dianggap rumit, mahal, dan memakan waktu.
Ester, salah satu pengunjung pameran merasa kagum atas pameran foto yang menampilkan keindahan Budaya Tana Toraja. Pameran “Toraja, Rumah Para Leluhur: Tradisi yang Menantang Waktu” ini bukan hanya sekadar visual melainkan perjalanan batin leluhur yang ditangkap sempurna melalui lensa fotografer.
“Seakan sebuah undangan untuk berhenti sejenak, menatap foto-foto itu, dan mendengar bisikan leluhur yang berbicara lewat cahaya,” ucapnya.
Pameran digelar oleh Forsednibudpar dan Galeri Mata Nusantara (GMN) ini bertujuan merawat kekayaan seni budaya bangsa Indonesia dan mewariskannya kepada generasi muda melalui data dan jejak rekam digital serta memperluasnya melalui pameran foto, diskusi budaya maupun buku dan media sosial. Gratis dan terbuka untuk umum, acara berlangsung mulai 27 Agustus-7 September 2025.
Tiga fotografer menampilkan 15 karya foto dengan tema beragam, unik, menarik dan menggugah penonton. Selain itu di esok harinya Kamis, 28 Agustus pada pukul 15.00 WIB diisi dengan Diskusi Budaya dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang mengupas Lunturnya Nilai Adat & Tradisi di mana upacara adat seperti Rambu Solo’ atau Ma’nene berpotensi ditinggalkan generasi muda karena dianggap rumit, mahal, dan memakan waktu.
(jon)
Lihat Juga :