Perang Thailand-Kamboja Pecah, Indonesia Didorong Jalankan Shuttle Diplomacy
Sabtu, 26 Juli 2025 - 05:59 WIB
"Target utama shuttle diplomacy itu adalah untuk meminta keduanya menahan diri. Di saat yang sama, Indonesia dan ASEAN perlu menawarkan hadirnya observer, yang bisa jadi melibatkan pasukan penjaga perdamaian dari negara-negara ASEAN, untuk memastikan eskalasi konflik tidak berkembang," ujarnya.
Shuttle diplomacy atau diplomasi ulang-alik adalah diskusi antara dua negara atau lebih. Diplomat melakukan perjalanan ke berbagai negara, berbincang dengan pemerintah yang terlibat, menyampaikan pesan, dan menyarankan cara untuk mengatasi masalah.
Selanjutnya, kata Umam, Indonesia harus mengambil langkah aktif, termasuk mengajak negara-negara ASEAN lainnya, sebagai mediator dalam proses diplomasi. Dalam waktu dekat, ASEAN harus bisa mendorong genjatan senjata, merumuskan skema pengintegrasian penyelesaian konflik, menentukan timeline proses penyelesaian konflik.
"Langkah ini sangat urgen untuk memastikan stabilitas keamanan dan perdamaian bisa kembali kokoh, demi pembangunan ekonomi dan kemajuan kawasan," kata Umam yang juga mantan wartawan ini.
Sementara, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Lodewijk Freidrich Paulus menyampaikan bahwa Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sudah membuka komunikasi menjadi penengah konflik Thailand dan Kamboja.
"Ya, selama ini sebenarnya sudah berjalan. Sudah berjalan, ya. Nanti kita akan lihat langkah-langkah dari Kementerian Luar Negeri. Kita akan cek sejauh mana. Karena selama ini kita sudah berkomunikasi," kata Lodewijk dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (25/7/2025).
Shuttle diplomacy atau diplomasi ulang-alik adalah diskusi antara dua negara atau lebih. Diplomat melakukan perjalanan ke berbagai negara, berbincang dengan pemerintah yang terlibat, menyampaikan pesan, dan menyarankan cara untuk mengatasi masalah.
Selanjutnya, kata Umam, Indonesia harus mengambil langkah aktif, termasuk mengajak negara-negara ASEAN lainnya, sebagai mediator dalam proses diplomasi. Dalam waktu dekat, ASEAN harus bisa mendorong genjatan senjata, merumuskan skema pengintegrasian penyelesaian konflik, menentukan timeline proses penyelesaian konflik.
"Langkah ini sangat urgen untuk memastikan stabilitas keamanan dan perdamaian bisa kembali kokoh, demi pembangunan ekonomi dan kemajuan kawasan," kata Umam yang juga mantan wartawan ini.
Sementara, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Lodewijk Freidrich Paulus menyampaikan bahwa Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sudah membuka komunikasi menjadi penengah konflik Thailand dan Kamboja.
"Ya, selama ini sebenarnya sudah berjalan. Sudah berjalan, ya. Nanti kita akan lihat langkah-langkah dari Kementerian Luar Negeri. Kita akan cek sejauh mana. Karena selama ini kita sudah berkomunikasi," kata Lodewijk dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (25/7/2025).
Lihat Juga :