Selat Hormuz dan Pandora Geostrategis di Teluk Persia
Senin, 23 Juni 2025 - 20:27 WIB
Sikap Rusia, RRC, India, dan Pakistan: Kekhawatiran Terkendali
Negara-negara seperti Rusia dan RRC akan menyuarakan keprihatinan strategis, namun sangat berhati-hati agar tidak terseret ke dalam eskalasi militer langsung. India akan fokus pada stabilitas suplai energi, sementara Pakistan—meski memiliki kedekatan budaya dan sektarian dengan Iran—juga akan menimbang relasinya dengan negara Teluk dan China.
Tapi penting dicatat: meski skala konfliknya besar dan multiaktor, kemungkinan perang dunia tetap kecil, justru karena kalkulasi strategis semua pihak yang lebih mengedepankan penataan ulang pengaruh ketimbang konflik total.
Reposisi Amerika Serikat dan Revisi Kemitraan
Seiring meningkatnya tekanan di Indo-Pasifik dan Eropa Timur, AS mungkin melakukan recalibration of strategic alliances. Hubungan historis dengan Israel bisa mengalami penyesuaian jika langkah Tel Aviv dianggap mengganggu keseimbangan kawasan. Pandangan realis Lord Palmerston kembali relevan: “No eternal allies, no perpetual enemies. Only interests are eternal.”
Artinya, negara-negara Teluk maupun Iran harus membaca ulang isyarat geopolitik Washington—bukan sebagai soal loyalitas, tapi soal relevansi dalam peta kekuatan global yang tengah direstrukturisasi.
Posisi Indonesia: Bijak, Aktif, dan Tidak Terseret Retorika
Sebagai negara dengan prinsip bebas aktif, Indonesia harus tetap berpijak pada kepentingan nasional, bukan pada tarik-menarik blok ideologis atau tekanan emosional yang berkelindan di media sosial. Dalam situasi seperti ini, sangat penting untuk tidak menyeret isu agama ke ruang publik secara reaktif—karena konflik ini bukan semata benturan keyakinan, melainkan pertempuran pengaruh, strategi persenjataan, dan pemosisian ulang tata dunia.
Indonesia perlu tetap waspada, cerdas dalam diplomasi, dan bersuara berdasarkan kalkulasi rasional, bukan sentimen. Hormuz 2025 adalah arena ujian bagi dunia, dan juga cermin bagi keteguhan Indonesia sebagai kekuatan regional yang berdaulat.
Negara-negara seperti Rusia dan RRC akan menyuarakan keprihatinan strategis, namun sangat berhati-hati agar tidak terseret ke dalam eskalasi militer langsung. India akan fokus pada stabilitas suplai energi, sementara Pakistan—meski memiliki kedekatan budaya dan sektarian dengan Iran—juga akan menimbang relasinya dengan negara Teluk dan China.
Tapi penting dicatat: meski skala konfliknya besar dan multiaktor, kemungkinan perang dunia tetap kecil, justru karena kalkulasi strategis semua pihak yang lebih mengedepankan penataan ulang pengaruh ketimbang konflik total.
Reposisi Amerika Serikat dan Revisi Kemitraan
Seiring meningkatnya tekanan di Indo-Pasifik dan Eropa Timur, AS mungkin melakukan recalibration of strategic alliances. Hubungan historis dengan Israel bisa mengalami penyesuaian jika langkah Tel Aviv dianggap mengganggu keseimbangan kawasan. Pandangan realis Lord Palmerston kembali relevan: “No eternal allies, no perpetual enemies. Only interests are eternal.”
Artinya, negara-negara Teluk maupun Iran harus membaca ulang isyarat geopolitik Washington—bukan sebagai soal loyalitas, tapi soal relevansi dalam peta kekuatan global yang tengah direstrukturisasi.
Posisi Indonesia: Bijak, Aktif, dan Tidak Terseret Retorika
Sebagai negara dengan prinsip bebas aktif, Indonesia harus tetap berpijak pada kepentingan nasional, bukan pada tarik-menarik blok ideologis atau tekanan emosional yang berkelindan di media sosial. Dalam situasi seperti ini, sangat penting untuk tidak menyeret isu agama ke ruang publik secara reaktif—karena konflik ini bukan semata benturan keyakinan, melainkan pertempuran pengaruh, strategi persenjataan, dan pemosisian ulang tata dunia.
Indonesia perlu tetap waspada, cerdas dalam diplomasi, dan bersuara berdasarkan kalkulasi rasional, bukan sentimen. Hormuz 2025 adalah arena ujian bagi dunia, dan juga cermin bagi keteguhan Indonesia sebagai kekuatan regional yang berdaulat.
(cip)
Lihat Juga :