LSI Denny JA: Lapangan Pekerjaan Jadi Rapor Merah Prabowo-Gibran
Rabu, 04 Juni 2025 - 17:03 WIB
Keresahan ini melintasi kelas sosial dan latar pendidikan. Dari warga berpenghasilan di bawah Rp2 juta hingga mereka yang bergaji di atas Rp4 juta per bulan, dari lulusan SMA hingga D3 ke atas.
"Mayoritas menyatakan sulitnya mencari pekerjaan. Bahkan wilayah seperti Maluku dan Papua mencatatkan angka tertinggi 87% warganya menyatakan bahwa lapangan kerja semakin langka," katanya.
Sementara itu, 58,3% responden mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, sebuah tanda tekanan psikologis domestik, khususnya pada sektor konsumsi dasar. Ketika harga sembako memberatkan, angka-angka tak lagi sekadar statistik. Mereka menjadi detak jantung dari kecemasan kolektif.
Menurut Ardian Sofa, ada empat penyebab utama mengapa tekanan ekonomi mikro muncul di awal pemerintahan Prabowo-Gibran. Pertama, program masih dalam uji coba. Program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih masih dalam tahap implementasi awal, sehingga dampaknya belum terasa luas.
Kedua, pertumbuhan ekonomi di bawah target. Ekonomi nasional tumbuh di bawah 5% pada kuartal ini, terlalu lemah untuk menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.
Ketiga, ekspektasi publik yang tinggi. Kemenangan besar Prabowo di Pilpres memicu ekspektasi tinggi dari masyarakat. Realitas yang belum memenuhi harapan ini memunculkan rasa kecewa.
Keempat, gelombang PHK masif. Sejak awal tahun hingga Maret 2025, tercatat lebih dari 73.000 kasus pemutusan hubungan kerja. Fenomena ini turut memperburuk kondisi sosial-ekonomi warga.
"Mayoritas menyatakan sulitnya mencari pekerjaan. Bahkan wilayah seperti Maluku dan Papua mencatatkan angka tertinggi 87% warganya menyatakan bahwa lapangan kerja semakin langka," katanya.
Sementara itu, 58,3% responden mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, sebuah tanda tekanan psikologis domestik, khususnya pada sektor konsumsi dasar. Ketika harga sembako memberatkan, angka-angka tak lagi sekadar statistik. Mereka menjadi detak jantung dari kecemasan kolektif.
Menurut Ardian Sofa, ada empat penyebab utama mengapa tekanan ekonomi mikro muncul di awal pemerintahan Prabowo-Gibran. Pertama, program masih dalam uji coba. Program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih masih dalam tahap implementasi awal, sehingga dampaknya belum terasa luas.
Kedua, pertumbuhan ekonomi di bawah target. Ekonomi nasional tumbuh di bawah 5% pada kuartal ini, terlalu lemah untuk menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.
Ketiga, ekspektasi publik yang tinggi. Kemenangan besar Prabowo di Pilpres memicu ekspektasi tinggi dari masyarakat. Realitas yang belum memenuhi harapan ini memunculkan rasa kecewa.
Keempat, gelombang PHK masif. Sejak awal tahun hingga Maret 2025, tercatat lebih dari 73.000 kasus pemutusan hubungan kerja. Fenomena ini turut memperburuk kondisi sosial-ekonomi warga.
Lihat Juga :