Prabowo di KTT ASEAN-GCC: Al-Quds Ibu Kota Palestina yang Merdeka

Selasa, 27 Mei 2025 - 17:58 WIB

Deklarasi Kuala Lumpur



Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto berharap Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-46 ASEAN di Kuala Lumpur dapat terus meningkatkan soliditas negara-negara dalam menghadapi situasi global ke depan. Hal ini disampaikan Kepala Negara seusai menandatangani Deklarasi Kuala Lumpur tentang ASEAN 2045.

Penandatangan ini dilakukan secara bergiliran oleh seluruh kepala negara dan kepala pemerintahan anggota ASEAN, serta turut disaksikan oleh Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao yang hadir sebagai pengamat, mengingat negaranya belum secara resmi menjadi anggota penuh ASEAN.

"ASEAN harus lebih kuat, lebih solid. Situasi dunia tidak menentu jadi kita harus kerja sama lebih baik lagi,” kata Prabowo seusai tanda tangani Deklarasi Kuala Lumpur bersama pemimpin ASEAN, Senin (26/5/2025).

Isi dari deklarasi itu meneguhkan kembali masa depan bersama yang dicita-citakan oleh negara-negara ASEAN.

Pada tahun 1967, para pendiri ASEAN telah berikrar untuk bersatu dalam persahabatan dan kerja sama. Melalui upaya bersama dan pengorbanan, mereka berkomitmen menghadirkan bagi rakyat dan generasi penerus, berkah perdamaian, kebebasan, dan kemakmuran.

"Hari ini, kita memperbarui janji luhur itu. Bukan sebagai bentuk penghormatan terhadap masa lalu semata, melainkan sebagai perjanjian hidup yang menyongsong masa depan," kata PM Malaysia Anwar Ibrahim.

8 Poin Deklarasi Kuala Lumpur:

1. Meneguhkan Visi Jangka Panjang ASEAN 2045



Deklarasi Kuala Lumpur menegaskan kembali komitmen ASEAN untuk mewujudkan visi kawasan yang tangguh, inovatif, dan berorientasi pada rakyat dalam dua dekade ke depan. Dokumen ini menjadi peta jalan strategis bagi negara-negara anggota dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks dan dinamis.

2. Mendorong Integrasi Kawasan yang Inklusif dan Berkelanjutan



ASEAN menekankan pentingnya integrasi yang benar-benar berpihak pada rakyat. Ini meliputi upaya menutup kesenjangan pembangunan, meningkatkan taraf hidup, serta memperkuat investasi pada potensi dan kapasitas sumber daya manusia di kawasan.

3. Menanggapi Disrupsi Global secara Kolektif



Deklarasi ini juga menyoroti perlunya tata kelola bersama dalam menghadapi disrupsi teknologi, fragmentasi ekonomi global, serta perubahan iklim. Inovasi diakui sebagai peluang, namun juga perlu dikelola bersama agar tidak memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!