Lampaui Batas Negara: Soft Diplomacy Mengakar di Gelar Melayu Serumpun

Selasa, 27 Mei 2025 - 16:01 WIB
Geoffrey Cowan dalam The New Public Diplomacy (2005) menekankan pentingnya cultural diplomacy sebagai alat hubungan luar negeri suatu negara, termasuk melalui festival dan pertukaran budaya.

Wilayah Asia Tenggara adalah kawasan multikultural yang sering kali menghadapi tantangan geopolitik, sengketa batas, dan dinamika diplomatik.

Namun, di atas semua itu, ada benang merah sejarah dan budaya yang menyatukan: peradaban Melayu adalah salah satunya. Bahasa serumpun, agama, sistem nilai, dan warisan tradisional menjadi modal sosial yang dapat diperkuat untuk mempererat kohesi kawasan.

Melissen (2005) menyoroti peran budaya sebagai alat dalam diplomasi modern. Diplomasi publik modern mencakup kegiatan budaya yang membangun hubungan dengan masyarakat asing secara langsung.

Melalui Gelar Melayu Serumpun, diplomasi antar masyarakat (people-to-people diplomacy) terjadi secara alami. Penari dari Johor berlatih bersama seniman muda dari Tanjungbalai, sementara pelajar dari Medan dan Ipoh menampilkan puisi kolaboratif bertema identitas dan perubahan zaman.

Bagi Nye, soft diplomacy akan berfungsi secara efektif ketika daya tarik budaya bersifat otentik dan tidak dipaksakan. Gelar Melayu Serumpun menampilkan budaya asli komunitas, bukan representasi artifisial yang dibuat untuk kepentingan pariwisata semata. Setiap penampilan mengandung makna sejarah dan spiritualitas.

Lalu, adanya hubungan timbal balik, bukan dominasi. Bisa dilihat pada pagelaran Festival Melayu Serumpun delegasi dari berbagai negara setara di atas panggung. Tak ada negara yang lebih diutamakan; semua memiliki ruang yang sama untuk menampilkan identitas.

Nye melanjutkan, event budaya yang mampu memengaruhi opini publik dan membentuk persepsi jangka panjang. Ini artinya, festival bukan hanya ditujukan bagi tamu resmi, tapi terbuka untuk masyarakat umum, terutama generasi muda. Di sinilah efek jangka panjang dibangun.

Istana Maimun: Simbol, Ruang, dan Makna

Istana Maimun bukan sekadar latar artistik Gelar Melayu Serumpun. Istana ini adalah simbol keberadaan Melayu Deli yang multikultural. Dibangun pada akhir abad ke-19, arsitekturnya memadukan unsur Islam, Eropa, dan India. Hari ini, ia menjadi ruang sakral tempat budaya hidup kembali bukan dalam museum, tetapi dalam gerak dan suara.

Peran Istana Maimun sebagai faktor penting diplomasi sangat nyata. Cummings mendefinisikan cultural diplomacy sebagai pertukaran ide, informasi, seni, dan aspek budaya lainnya antarbangsa dan antar masyarakat guna memperkuat saling pengertian (2003).

Ketika seorang anak dari Selangor dan seorang pemuda dari Rokan Hilir berlatih tarian yang sama, memakai busana yang sama, dan saling tertawa saat belajar pantun bersama, itulah bentuk diplomasi paling murni: diplomasi yang lahir dari hati, bukan agenda.

Di tengah riuh dunia, Gelar Melayu Serumpun mengingatkan kita bahwa budaya adalah bahasa perdamaian paling tua, dan mungkin yang paling efektif. Diplomasi ini tidak membentak, tidak mengancam, hanya mengajak: mari duduk bersama, mari menari bersama, mari mengenang siapa kita—agar tahu ke mana kita akan melangkah.

Medan sebagai Pusat Diplomasi Budaya Kawasan

Letak geografis Medan yang strategis di utara Sumatera dan kedekatannya secara historis dengan Semenanjung Melayu menjadikannya lokasi ideal untuk membangun jembatan diplomasi budaya. Istana Maimun, sebagai warisan Kesultanan Deli, menjadi bukan hanya panggung, tetapi juga simbol dari keberagaman yang bersatu dalam bingkai Melayu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!