Liga Arab, Gaza, dan Bayang-bayang Washington

Minggu, 09 Maret 2025 - 06:14 WIB
Selain itu, peran Iran dalam mendukung kelompok-kelompok seperti Hamas dan Hizbullah menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk fragmentasi ini. Negara-negara Teluk yang pro-Barat dan negara-negara yang lebih terbuka terhadap pengaruh Iran, seperti Suriah dan Lebanon, memiliki sikap yang berbeda terhadap Tehran. Ketegangan ini semakin memperburuk kebijakan luar negeri negara-negara Arab secara keseluruhan, membuat mereka kesulitan untuk mengembangkan kebijakan kolektif yang efektif.

Dinamika internal Liga Arab juga mencerminkan ketidakefektifan diplomasi regional akibat kurangnya kesatuan strategis. Shibley Telhami dalam The Stakes: America in the Middle East menegaskan bahwa negara-negara Arab sering kali tersandera oleh dinamika geopolitik global, yang semakin memperburuk fragmentasi. Ketidaksepakatan antarnegara Arab sering dimanfaatkan oleh kekuatan eksternal seperti Amerika Serikat dan Rusia untuk memperkuat posisi geopolitik mereka, semakin memperumit krisis di Timur Tengah.

Jalan ke Depan: Retorika atau Tindakan Nyata?

Liga Arab menghadapi dilema besar. Di satu sisi, mereka harus membuktikan bahwa pertemuan ini bukan sekadar ritual diplomasi tahunan. Di sisi lain, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa tanpa dukungan nyata dari kekuatan global, rekonstruksi Gaza akan tetap menjadi janji yang tak terwujud.

Jika melihat sejarah, banyak keputusan Liga Arab yang berakhir tanpa tindak lanjut yang konkret. Resolusi-resolusi yang dihasilkan sering kali hanya bersifat deklaratif tanpa mekanisme implementasi yang jelas. Dalam konteks ini, dunia Arab perlu mengubah pendekatannya: dari sekadar mengeluarkan pernyataan politik menjadi gerakan diplomatik yang lebih konkret dan berkelanjutan.

Dunia Arab juga perlu menyadari bahwa perjuangan Palestina tidak dapat dilepaskan dari perubahan dinamika global. Peran Rusia dan China yang semakin aktif di Timur Tengah, misalnya, dapat membuka peluang baru bagi Palestina untuk mendapatkan dukungan alternatif di luar orbit AS dan sekutunya. Liga Arab bisa memanfaatkan peluang ini untuk memperkuat posisi tawarnya dalam perundingan internasional.

Pada akhirnya, jalan ke depan bagi dunia Arab bukan hanya tentang membangun kembali rumah-rumah yang hancur di Gaza, tetapi juga membangun kepercayaan bahwa mereka mampu berdiri sendiri, lepas dari bayang-bayang kepentingan asing. Jika Liga Arab ingin membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar forum retorika, maka inilah saatnya untuk bertindak—bukan dengan pernyataan, tetapi dengan langkah nyata yang berani. Sebab, sejarah tidak mencatat mereka yang hanya bersuara, tetapi mereka yang bertindak untuk mengubah arah zaman.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!