Duka Operasi Seroja, 129 Prajurit Terbaik Kopassus Gugur di Timtim
Senin, 03 Maret 2025 - 06:10 WIB
Konflik bersenjata itu dipicu proklamasi kemerdekaan Timor Timur pada 25 November 1975 oleh para perwira muda tentara beraliran sosial komunis karena adanya Revolusi Bunga Anyelir di Portugal.
Kekhawatiran banyak kalangan termasuk Amerika Serikat terhadap penyebaran paham komunis membuat Indonesia yang baru saja menghadapi pemberontakan bersenjata Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui gerakan G30S/PKI khawatir Timtim akan menjadi basis kekuatan untuk menyerang Indonesia.
”Perang dingin Blok Barat dan Blok Timur pada era tahun 1945-1989 telah menyesatkan Indonesia karena menyerbu Timur Leste pada 7 Desember 1975,” kata mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono.
Serbuan itu dilakukan Indonesia mengacu pada teori efek domino bahwa setelah tentara komunis memenangkan peperangan terhadap Amerika Serikat (AS) di Vietnam Selatan pada 1974 maka Asia Tenggara khususnya Indonesia akan juga jatuh ke tangan kaum komunis internasional.
Politik perang di tataran internasional yang didominasi Amerika Serikat ini mendorong pemerintah Indonesia mengambil keputusan politik untuk menyerang Timor Leste. Apalagi bantuan peralatan militer untuk memperkuat tentara Indonesia berupa pesawat tempur udara taktis Rockwell OV-10, pesawat angkut Lockheed Martin C-30, Cadillac Gage V-150 dan kendaraan lapis baja APC Commando terus mengalir.
Namun seiring perjalanan waktu dan perubahan politik internasional yang mendorong Reformasi 1998 membuat Indonesia harus melepaskan Timor Leste melalui referendum di bawah pengawasan langsung PBB.
Kekhawatiran banyak kalangan termasuk Amerika Serikat terhadap penyebaran paham komunis membuat Indonesia yang baru saja menghadapi pemberontakan bersenjata Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui gerakan G30S/PKI khawatir Timtim akan menjadi basis kekuatan untuk menyerang Indonesia.
”Perang dingin Blok Barat dan Blok Timur pada era tahun 1945-1989 telah menyesatkan Indonesia karena menyerbu Timur Leste pada 7 Desember 1975,” kata mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono.
Serbuan itu dilakukan Indonesia mengacu pada teori efek domino bahwa setelah tentara komunis memenangkan peperangan terhadap Amerika Serikat (AS) di Vietnam Selatan pada 1974 maka Asia Tenggara khususnya Indonesia akan juga jatuh ke tangan kaum komunis internasional.
Politik perang di tataran internasional yang didominasi Amerika Serikat ini mendorong pemerintah Indonesia mengambil keputusan politik untuk menyerang Timor Leste. Apalagi bantuan peralatan militer untuk memperkuat tentara Indonesia berupa pesawat tempur udara taktis Rockwell OV-10, pesawat angkut Lockheed Martin C-30, Cadillac Gage V-150 dan kendaraan lapis baja APC Commando terus mengalir.
Namun seiring perjalanan waktu dan perubahan politik internasional yang mendorong Reformasi 1998 membuat Indonesia harus melepaskan Timor Leste melalui referendum di bawah pengawasan langsung PBB.
(cip)
Lihat Juga :