Calon Tunggal di Pilkada Dinilai Merusak Demokrasi
Kamis, 03 September 2020 - 17:31 WIB
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai, calon tunggal di Pilkada serentak seperti di OKU, merusak demokrasi. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai, calon tunggal dalam Pilkada serentak seperti di Ogan Komering Ulu (OKU) telah merusak demokrasi. Kata Lucius, calon tunggal meniadakan kontestasi.
(Baca juga: Kabareskrim Instruksikan Jajaran Patuhi Penundaan Proses Hukum Pilkada)
"Calon tunggal mau bagaimana dikatakan demokrasi kalau tidak ada kontestasinya lagi. Yang pasti sudah merusak demokrasi," ujar Lucius dihubungi wartawan, Kamis (3/9/2020).
(Pendaftaran Pilkada Bisa Ditunda jika Hanya Ada Satu Paslon)
Diketahui, koalisi raksasa 11 partai politik mengusung bupati petahana, Kuryana Azis, maju di lagi di Pilkada OKU 2020. Dia berpasangan dengan Johan Anuar, tersangka kasus korupsi tanah kuburan. Belasan partai mengusung petahana. Kuryana Aziz dan Johan Anuar diprediksi akan menjadi calon tunggal di Pilkada OKU.
(Baca juga: Kabareskrim Instruksikan Jajaran Patuhi Penundaan Proses Hukum Pilkada)
"Calon tunggal mau bagaimana dikatakan demokrasi kalau tidak ada kontestasinya lagi. Yang pasti sudah merusak demokrasi," ujar Lucius dihubungi wartawan, Kamis (3/9/2020).
(Pendaftaran Pilkada Bisa Ditunda jika Hanya Ada Satu Paslon)
Diketahui, koalisi raksasa 11 partai politik mengusung bupati petahana, Kuryana Azis, maju di lagi di Pilkada OKU 2020. Dia berpasangan dengan Johan Anuar, tersangka kasus korupsi tanah kuburan. Belasan partai mengusung petahana. Kuryana Aziz dan Johan Anuar diprediksi akan menjadi calon tunggal di Pilkada OKU.
Lihat Juga :