NU 102 Tahun: Dari Kolaborasi Menuju Peradaban Inklusif

Selasa, 28 Januari 2025 - 21:34 WIB
Secara eksternal, kolaborasi NU dengan elemen bangsa telah menjadi teladan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada Muktamar NU tahun 1928, para kiai menyerukan "perang kebudayaan" untuk melawan kolonialisme melalui penguatan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1936 menetapkan Indonesia sebagai “Darul Islam” yang harus diperjuangkan. Puncaknya, Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 mewajibkan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan. Seruan ini memobilisasi ribuan santri dan masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan dalam pertempuran Surabaya.

Di tingkat global, NU dapat menggunakan platform seperti Religion of Twenty (R20) untuk memperkuat dialog antaragama dan melawan narasi ekstremis. R20, yang menjadi bagian dari forum G20, menciptakan ruang bagi dialog lintas agama untuk membahas isu-isu global seperti ketidakadilan sosial, konflik berbasis agama, dan pelestarian lingkungan. Dengan peran aktif dalam inisiatif ini, NU menunjukkan kepemimpinannya dalam mempromosikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

NU juga perlu melanjutkan inisiatif seperti Muktamar Fiqih Peradaban untuk menawarkan solusi terhadap isu-isu global. Dalam muktamar ini, NU dapat mengembangkan narasi Islam yang relevan dengan tantangan zaman, seperti pelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan, keadilan sosial, dan resolusi konflik yang mengutamakan dialog dan toleransi. Sebagaimana ditegaskan oleh Ketua Umum PBNU Kiai Yahya Cholil Staquf, "Agama memiliki tanggung jawab untuk mendorong perdamaian dan mengatasi berbagai masalah global yang muncul akibat ketidakadilan dan ekstremisme".

Namun, menerjemahkan kolaborasi menjadi aksi nyata bukanlah tanpa hambatan. Tantangan internal seperti resistensi terhadap perubahan dan fragmentasi organisasi harus diatasi melalui pendekatan yang strategis. Di sisi lain, tantangan eksternal seperti disinformasi, populisme agama, dan meningkatnya sentimen Islamofobia memerlukan penguatan literasi digital serta kesadaran kolektif di semua elemen organisasi. Literasi digital tidak hanya penting untuk melawan hoaks tetapi juga untuk memperluas jangkauan dakwah NU secara global.

Momentum Harlah ke-102 NU adalah kesempatan untuk merumuskan langkah strategis yang visioner dan memperkuat peran NU dalam menjawab tantangan zaman. Dengan lebih dari satu abad keberadaannya, NU memiliki landasan historis dan demografis yang kokoh untuk membawa perubahan signifikan di tingkat nasional maupun global.

Dengan mengintegrasikan nilai-nilai rahmatan lil alamin dan semangat kolaborasi ke dalam setiap kebijakan dan program, NU dapat terus menjadi penjaga peradaban yang membawa manfaat luas bagi umat manusia. Dengan merujuk pada prinsip peradaban inklusif yang membuka ruang dialog lintas budaya dan agama, NU dapat membuktikan bahwa 102 tahun adalah awal baru bagi perjalanan sebagai jam’iyyah yang kokoh dan strategis.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!