Puisi Esai: Gerakan Sastra yang Menghubungkan ASEAN, Mesir, dan Inggris
Senin, 16 Desember 2024 - 13:09 WIB
Datuk Jasni adalah sosok yang memprakarsai Festival Puisi Esai di Kota Kinabalu. Ia mengundang para sastrawan dan akademisi sastra dari Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan sebagainya. Ia juga yang memprakarsai Lomba Menulis Puisi Esai Se-ASEAN.
Datuk Jasni adalah juga pimpinan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Sabah, serta Dewan Bahasa dan Sastera (Bahasa) Sabah.
Pembicara lain, penyair Fatin Hamama --yang mempromosikan puisi esai ke Mesir-- pada kesempatan itu menyatakan, “Puisi esai membawa misi kemanusiaan yang universal. Puisi esai juga menjadi sarana alternatif sebagai diplomasi sastra.”
Dalam diskusi itu, Fatin menuturkan perjuangannya untuk puisi esai di tahap awal, ketika genre sastra itu dan penggagasnya menjadi sasaran kritik dan hujatan dari pihak-pihak, yang belum bisa menerima eksistensi puisi esai.
Sedangkan Monica JR, sebagai pembicara terakhir, menyatakan, puisi esai bisa lebih mudah diterima oleh kaum muda --sebut saja kalangan Generasi Z-- ketika ia bukan sekadar karya sastra. Namun bisa berfungsi untuk solidaritas dan “healing.”
Monica, yang mempromosikan puisi esai ke Inggris dan Singapura, menceritakan pengalaman interaksinya dengan beberapa teman dari luar negeri, yang mendapatkan solidaritas dan “healing” itu lewat karya sastra.
“Puisi esai adalah sebuah gerakan dan dia bisa mendorong penyembuhan bagi kaum muda, yang hidup di tengah dunia seperti sekarang ini,” ujar Monica.
Datuk Jasni adalah juga pimpinan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Sabah, serta Dewan Bahasa dan Sastera (Bahasa) Sabah.
Pembicara lain, penyair Fatin Hamama --yang mempromosikan puisi esai ke Mesir-- pada kesempatan itu menyatakan, “Puisi esai membawa misi kemanusiaan yang universal. Puisi esai juga menjadi sarana alternatif sebagai diplomasi sastra.”
Dalam diskusi itu, Fatin menuturkan perjuangannya untuk puisi esai di tahap awal, ketika genre sastra itu dan penggagasnya menjadi sasaran kritik dan hujatan dari pihak-pihak, yang belum bisa menerima eksistensi puisi esai.
Sedangkan Monica JR, sebagai pembicara terakhir, menyatakan, puisi esai bisa lebih mudah diterima oleh kaum muda --sebut saja kalangan Generasi Z-- ketika ia bukan sekadar karya sastra. Namun bisa berfungsi untuk solidaritas dan “healing.”
Monica, yang mempromosikan puisi esai ke Inggris dan Singapura, menceritakan pengalaman interaksinya dengan beberapa teman dari luar negeri, yang mendapatkan solidaritas dan “healing” itu lewat karya sastra.
“Puisi esai adalah sebuah gerakan dan dia bisa mendorong penyembuhan bagi kaum muda, yang hidup di tengah dunia seperti sekarang ini,” ujar Monica.
(shf)
Lihat Juga :