Pemerintah Diminta Perlakukan Pandemi Corona seperti Ancaman Perang
Rabu, 15 April 2020 - 00:20 WIB
Sementara, Indonesia menghadapi siklus pertama terkesan lamban kemajuannya. Kebijakan pemerintah masih terfokus seputar pembatasan sosial, kelangkaan alat pelindung diri (APD), debat mengenai mudik dan tidak mudik, dan sebagainya.
Padahal, negara lain sudah mulai mengantisipasi siklus kedua, menyiapkan rencana normalisasi, bahkan fokus kepada pengembangan vaksin.
"Saya apresiasi upaya Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani dengan mengajukan proposal penyelamatan ekonomi yang persentasenya minimal sama dengan negara- negara lain yaitu 10 persen dari PDB. Itu pun belum tentu cukup, " kata Cicip. (Baca juga: Pandemi Corona Jadi Bencana Nasional, Pemerintah Minta Bantuan Dunia)
Dia juga mengingatkan setiap hari puluhan bahkan ratusan rakyat yang menjadi korban jiwa. "Dan setiap satu nyawa yang hilang mewakili seluruh rakyat Indonesia karena yang berikutnya bisa siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Kondisi ini sudah sebanding dengan kita menghadapi ancaman agresi militer yang mengancam ketahanan nasional. Karena yang terancam adalah kemampuan rakyat untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan, Covid-19 ini lebih berbahaya karena tidak kelihatan bentuknya," ungkapnya.
Kemudian, Cicip mengingatkan agar pemerintah dan Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona tidak keliru dalam membedakan antara konsep besar yang strategis dengan langkah-langkah taktis.
Padahal, negara lain sudah mulai mengantisipasi siklus kedua, menyiapkan rencana normalisasi, bahkan fokus kepada pengembangan vaksin.
"Saya apresiasi upaya Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani dengan mengajukan proposal penyelamatan ekonomi yang persentasenya minimal sama dengan negara- negara lain yaitu 10 persen dari PDB. Itu pun belum tentu cukup, " kata Cicip. (Baca juga: Pandemi Corona Jadi Bencana Nasional, Pemerintah Minta Bantuan Dunia)
Dia juga mengingatkan setiap hari puluhan bahkan ratusan rakyat yang menjadi korban jiwa. "Dan setiap satu nyawa yang hilang mewakili seluruh rakyat Indonesia karena yang berikutnya bisa siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Kondisi ini sudah sebanding dengan kita menghadapi ancaman agresi militer yang mengancam ketahanan nasional. Karena yang terancam adalah kemampuan rakyat untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan, Covid-19 ini lebih berbahaya karena tidak kelihatan bentuknya," ungkapnya.
Kemudian, Cicip mengingatkan agar pemerintah dan Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona tidak keliru dalam membedakan antara konsep besar yang strategis dengan langkah-langkah taktis.
(jon)
Lihat Juga :