PDIP Vs KIM Plus, Siapa Unggul di Pilkada Jakarta, Jateng, dan Jatim?
Rabu, 30 Oktober 2024 - 18:30 WIB
Di Jawa Timur, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak yang diusung KIM Plus unggul telak dengan 65,8%. Pasangan PDIP, Tri Rismaharini-Zahrul Azhar Asumta, berada di posisi kedua dengan 24,5%. Sebagian kecil pemilih, 8,7%, masih belum memutuskan pilihan, namun posisi Khofifah sebagai gubernur petahana memberikan keuntungan besar.
Sementara itu, di DKI Jakarta, persaingan berlangsung lebih ketat. Pasangan KIM Plus, Ridwan Kamil-Suswono, meraih elektabilitas 37,4%, hampir setara dengan pasangan PDIP, Pramono Anung-Rano Karno, yang memperoleh 37,1%. Sebanyak 21,5% pemilih belum menentukan pilihan, menjadikan DKI Jakarta sebagai wilayah yang paling sulit diprediksi.
Setidaknya ada beberapa alasan mengapa pasangan yang didukung koalisi besar seperti KIM Plus tidak unggul signifikan di Pilkada Jakarta. Pertama, mesin partai KIM Plus kurang efektif di Jakarta. Banyak pemilih PKS, Golkar, PKB, Demokrat, PPP, dan Nasdem cenderung memilih pasangan Pramono Anung-Rano Karno daripada pasangan yang diusung partai mereka sendiri. Sebaliknya, PDIP lebih solid karena mayoritas anggotanya mendukung pasangan ini.
"Ini menjadi pekerjaan besar bagi Ridwan Kamil-Suswono. Mengapa pemilih dari partaipengusungnya sendiri, Golkar (Ridwan Kamil) dan PKS (Suswono), lebih banyak memilih Pramono dan Rano Karno. Ada jarak yang lebar antara keputusan elit partai dan massa partai," katanya.
Kedua, pasangan Ridwan Kamil-Suswono kurang diterima oleh komunitas Betawi. Rano Karno sebagai pemeran 'Si Doel' lebih menempel di memori pemilih Betawi. Ketiga, popularitas Ridwan Kamil sebanding dengan Rano Karno, dengan angka 97% bagi keduanya, yang berarti tidak ada keunggulan signifikan dalam hal pengenalan figur.
Sementara itu, di DKI Jakarta, persaingan berlangsung lebih ketat. Pasangan KIM Plus, Ridwan Kamil-Suswono, meraih elektabilitas 37,4%, hampir setara dengan pasangan PDIP, Pramono Anung-Rano Karno, yang memperoleh 37,1%. Sebanyak 21,5% pemilih belum menentukan pilihan, menjadikan DKI Jakarta sebagai wilayah yang paling sulit diprediksi.
Setidaknya ada beberapa alasan mengapa pasangan yang didukung koalisi besar seperti KIM Plus tidak unggul signifikan di Pilkada Jakarta. Pertama, mesin partai KIM Plus kurang efektif di Jakarta. Banyak pemilih PKS, Golkar, PKB, Demokrat, PPP, dan Nasdem cenderung memilih pasangan Pramono Anung-Rano Karno daripada pasangan yang diusung partai mereka sendiri. Sebaliknya, PDIP lebih solid karena mayoritas anggotanya mendukung pasangan ini.
"Ini menjadi pekerjaan besar bagi Ridwan Kamil-Suswono. Mengapa pemilih dari partaipengusungnya sendiri, Golkar (Ridwan Kamil) dan PKS (Suswono), lebih banyak memilih Pramono dan Rano Karno. Ada jarak yang lebar antara keputusan elit partai dan massa partai," katanya.
Kedua, pasangan Ridwan Kamil-Suswono kurang diterima oleh komunitas Betawi. Rano Karno sebagai pemeran 'Si Doel' lebih menempel di memori pemilih Betawi. Ketiga, popularitas Ridwan Kamil sebanding dengan Rano Karno, dengan angka 97% bagi keduanya, yang berarti tidak ada keunggulan signifikan dalam hal pengenalan figur.
Lihat Juga :