Kisah Istri Perwira Kostrad Mata-matai Markas PKI saat G30 September Meletus
Minggu, 29 September 2024 - 05:30 WIB
Rumah Tati yang terletak di Jalan Waringin, Menteng, berdekatan dengan Kantor Sabutri (Serikat Buruh dan Tani), sebuah organisasi yang berafiliasi dengan PKI. Dari rumahnya, Tati menyaksikan peningkatan aktivitas di markas tersebut menjelang dan sesudah G30S meletus. Bendera-bendera organisasi Sabutri berkibar, dan para pemuda berseragam Pemuda Rakyat keluar-masuk markas tanpa henti.
Ketegangan meningkat seiring hari. Tak hanya sebelum G30S, pasca pembunuhan para perwira Angkatan Darat, markas Sabutri tetap ramai, tanpa pengawasan dari pihak keamanan. Melihat hal ini, Tati memberanikan diri melaporkan situasi mencurigakan tersebut ke Garnisun Ibu Kota.
Tindakan berani Tati berbuah hasil. Tak lama setelah laporan diterima, aparat keamanan segera memantau aktivitas di sekitar Kantor Sabutri. Rumah Tati pun dijadikan pos pengintaian, sementara ia dan anak-anaknya diungsikan demi keselamatan mereka.
Selama beberapa hari, aparat memantau markas tersebut. Hingga akhirnya, mereka melakukan penggerebekan. Sekitar 40 pemuda beserta senjata tajam dan api berhasil diamankan. Selain itu, ditemukan pula lubang besar di markas tersebut yang diduga akan digunakan untuk kepentingan politik gelap PKI.
"Saya ingat, suatu hari pengurus Sabutri pernah meminta izin untuk memperbaiki saluran air yang rusak. Mungkin lubang itu akan digunakan untuk menimbun lawan-lawan politik mereka," ungkap Tati.
Kemampuan Soeharto dalam mengendalikan situasi pascameletusnya G30S PKI diakui Mayjen (purn) Soetoyo NK. Saat itu, Soetoyo merupakan taruna Akademi Militer Nasional yang tengah menunggu pelantikan Perwira.
Ketegangan meningkat seiring hari. Tak hanya sebelum G30S, pasca pembunuhan para perwira Angkatan Darat, markas Sabutri tetap ramai, tanpa pengawasan dari pihak keamanan. Melihat hal ini, Tati memberanikan diri melaporkan situasi mencurigakan tersebut ke Garnisun Ibu Kota.
Tindakan berani Tati berbuah hasil. Tak lama setelah laporan diterima, aparat keamanan segera memantau aktivitas di sekitar Kantor Sabutri. Rumah Tati pun dijadikan pos pengintaian, sementara ia dan anak-anaknya diungsikan demi keselamatan mereka.
Selama beberapa hari, aparat memantau markas tersebut. Hingga akhirnya, mereka melakukan penggerebekan. Sekitar 40 pemuda beserta senjata tajam dan api berhasil diamankan. Selain itu, ditemukan pula lubang besar di markas tersebut yang diduga akan digunakan untuk kepentingan politik gelap PKI.
"Saya ingat, suatu hari pengurus Sabutri pernah meminta izin untuk memperbaiki saluran air yang rusak. Mungkin lubang itu akan digunakan untuk menimbun lawan-lawan politik mereka," ungkap Tati.
Kemampuan Soeharto dalam mengendalikan situasi pascameletusnya G30S PKI diakui Mayjen (purn) Soetoyo NK. Saat itu, Soetoyo merupakan taruna Akademi Militer Nasional yang tengah menunggu pelantikan Perwira.
Lihat Juga :