WNI Diduga Disekap dan Disiksa di Myanmar, Keluarga Lapor ke Bareskrim
Senin, 12 Agustus 2024 - 17:54 WIB
Yohana bercerita, awalnya SA diajak oleh rekannya yang beranama Risky untuk bekerja di Thailand dengan gaji sebesar USD10.000 atau Rp150 juta. SA beserta keluarga tak menaruh curiga, karena kenal baik dengan Risky.
Yohana mengungkap, setelah semua persyaratan dinyatakan lengkap, SA pun meninggalkan Indonesia pada 11 Juli 2024 bersama Risky.
Sesampainya di Bangkok, Thailand, SA bersama Risky dan sejumlah orang keturunan India lainnya menaiki satu mobil, kemudian dijanjikan akan dibawa ke daerah Mae Sot, Thailand.
Baca juga: Kerusuhan di Inggris, Menlu Retno Pastikan Kondisi WNI Aman
Bukannya dibawa ke Mae Sot, mereka justru diberangkatkan ke Myanmar. Sementara Risky diketahui telah kembali ke Indonesia pada 30 Juli 2024 lalu.
"Si Risky ini tanggal 30 Juli kemarin udah balik loh ke Indonesia. Itu yang kita pertanyakan sebagai keluarga, kok dia yang ngajak tapi di bisa balik dengan bebasnya, dengan sehatnya ke Indonesia," katanya.
"Sedangkan kita dapat telpon dari SA, dia tuh disana disekap, disiksa karena orang sana minta tebusan sebesar 30 ribu USD. Selama uang itu belum masuk, si SA setiap nelpon ke kita, dia selalu di siksa sama orang sana, enggak dikasi makan juga, minum pun nunggu hujan dia baru bisa minum," sambungnya.
Yohana mengungkap, setelah semua persyaratan dinyatakan lengkap, SA pun meninggalkan Indonesia pada 11 Juli 2024 bersama Risky.
Sesampainya di Bangkok, Thailand, SA bersama Risky dan sejumlah orang keturunan India lainnya menaiki satu mobil, kemudian dijanjikan akan dibawa ke daerah Mae Sot, Thailand.
Baca juga: Kerusuhan di Inggris, Menlu Retno Pastikan Kondisi WNI Aman
Bukannya dibawa ke Mae Sot, mereka justru diberangkatkan ke Myanmar. Sementara Risky diketahui telah kembali ke Indonesia pada 30 Juli 2024 lalu.
"Si Risky ini tanggal 30 Juli kemarin udah balik loh ke Indonesia. Itu yang kita pertanyakan sebagai keluarga, kok dia yang ngajak tapi di bisa balik dengan bebasnya, dengan sehatnya ke Indonesia," katanya.
"Sedangkan kita dapat telpon dari SA, dia tuh disana disekap, disiksa karena orang sana minta tebusan sebesar 30 ribu USD. Selama uang itu belum masuk, si SA setiap nelpon ke kita, dia selalu di siksa sama orang sana, enggak dikasi makan juga, minum pun nunggu hujan dia baru bisa minum," sambungnya.
Lihat Juga :