26 Tahun Reformasi, Aktivis 98: Demokrasi Cacatnya Makin Parah

Selasa, 21 Mei 2024 - 15:51 WIB
"Demokrasi yang cacat dan cacatnya makin parah karena kemudian kekuasaan dengan seluruh instrumennya mempraktikkan kekuasaan yang mengabaikan etika, mengabaikan UU, memanipulasi UU, bahkan kemudian juga memanipulasi UUD 1945," ucap Ubedilah.

"Demokrasi makin memburuk dengan indeks kebebasan sipil yang juga skornya cuman 5,59. Nah tidak hanya itu, kami juga dulu bercita-cita agar bangsa ini setelah 25 tahun lebih itu memasuki episode yang praktik kekuasaan dan pemerintahan menjalankan good governance dan clean government. Tetapi hari ini kita melihat bahwa korupsi merajalela," tambahnya.

Lebih lanjut, Ubedilah mengatakan, di atas demokrasi yang cacat, pihaknya menilai bahwa korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi begitu vulgar. Datanya bisa lihat bersama-sama bahwa indeks korupsi kita skornya hanya 34.

"Itu kalau rapor merahnya merah banget. Itu cita-cita kedua di antaranya kita ingin agar korupsi, kolusi, dan nepotisme diberantas dan hadir pemerintah yang bersih," pungkasnya.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!