BNPT Gelar FGD Peran Media Massa Cegah Radikal Terorisme

Rabu, 20 Maret 2024 - 17:49 WIB
Irfan mengatakan, pertemuan kali ini adalah salah satu bentuk sinergi pemerintah, dalam hal ini BNPT sebagai leading sector penanggulangan terorisme dengan kalangan media. "Pers harus bisa bersinergi dalam upaya membangun deteksi dini dan daya tangkal masyarakat melalui pemberitaan yang akurat, inspiratif, dan bertanggung jawab," kata Irfan.

Sementara itu, pengamat terorisme, Irjen Pol (Purn) Hamli mengatakan, hal-hal yang memicu mudah masuknya propaganda di antaranya adalah faktor solidaritas komunal, dendam, serta ketidakmampuan literasi atau pengetahuan dalam memahami agama, serta adanya perasaan diperlakukan tidak adil.

"Di hulu, masuknya ideologi transnasional ke Indonesia seperti ikhwanul muslimin, Hizbut Tahrir (HT), salafi wahabi, salafi jihad, syiah dan jamaah tabligh membawa agendanya masing-masing," kata Hamli.

Hamli menjelaskan, ideologi transnasional itu melakukan propaganda, sikap diri yang merasa paling benar dan suci. Faktor ini yang menjadi pintu yang mudah dimasuki oleh ideologi transnasional tersebut yang berbahaya.

"Di hilirnya adalah, kita kenal Jamaah Islamiyah (JI)didirikan oleh Ustaz Abu Bakar Basyir (ABB) kelompok yang paling militan, kemampuan endurance atau ketahanannya yag cukup kuat, termasuk Jamaah Ansharud Daulah (JAD)," kata Hamli.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!