Pentingnya Ukhuwah Insaniyah dan Ukhuwah Wathaniyah Jaga Persatuan Bangsa
Rabu, 28 Februari 2024 - 11:25 WIB
Menurutnya, masyarakat Indonesia patut bersyukur dan bersuka cita karena telah melewati proses Pemilu 2024 lalu dengan kondisi yang relatif aman dan stabil. Saat ini, masyarakat Indonesia sedang menunggu hasil hitung suara secara resmi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Kiai yang juga Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mengkritik penggunaan politik identitas agama dalam kampanye. Hal ini, menurutnya, dapat mendiskreditkan agama dan mengurangi nilai sakralnya. Dirinya berpendapat bahwa agama memiliki konsep tersendiri dalam menjalankan nilai-nilainya, sementara politik punya jalannya yang tidak harus dibenturkan pada dogma agama.
"Masyarakat perlu diedukasi untuk memahami perbedaan antara nilai agama dan politisasi agama. Dengan begitu, publik semakin tercerahkan dengan edukasi yang baik, sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada agama, dan semakin dewasa dalam melihat hubungan agama dengan politik," kata Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan (Sekjen MUI Sulsel) ini.
Kiai Muammar berpendapat agama harus dijadikan nilai dan panutan dalam kehidupan tiap anak bangsa, karena memang itu fungsi dari agama. Agama yang nilai-nilai kebaikannya bisa menyinari segala aspek kehidupan manusia, tentunya tidak pantas jika kemudian dijadikan jargon untuk memenangkan kontestasi politik yang justru akan merendahkan posisi dari firman Tuhan itu sendiri.
Untuk itu pasca pemilu ini, Prof. Muammar pun mengajak masyarakat untuk kembali kepada konstitusi dan nilai-nilai agama, terutama dalam menjaga kedamaian serta memperkuat persatuan sesama anak bangsa.
Kiai yang juga Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mengkritik penggunaan politik identitas agama dalam kampanye. Hal ini, menurutnya, dapat mendiskreditkan agama dan mengurangi nilai sakralnya. Dirinya berpendapat bahwa agama memiliki konsep tersendiri dalam menjalankan nilai-nilainya, sementara politik punya jalannya yang tidak harus dibenturkan pada dogma agama.
"Masyarakat perlu diedukasi untuk memahami perbedaan antara nilai agama dan politisasi agama. Dengan begitu, publik semakin tercerahkan dengan edukasi yang baik, sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada agama, dan semakin dewasa dalam melihat hubungan agama dengan politik," kata Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan (Sekjen MUI Sulsel) ini.
Kiai Muammar berpendapat agama harus dijadikan nilai dan panutan dalam kehidupan tiap anak bangsa, karena memang itu fungsi dari agama. Agama yang nilai-nilai kebaikannya bisa menyinari segala aspek kehidupan manusia, tentunya tidak pantas jika kemudian dijadikan jargon untuk memenangkan kontestasi politik yang justru akan merendahkan posisi dari firman Tuhan itu sendiri.
Untuk itu pasca pemilu ini, Prof. Muammar pun mengajak masyarakat untuk kembali kepada konstitusi dan nilai-nilai agama, terutama dalam menjaga kedamaian serta memperkuat persatuan sesama anak bangsa.
Lihat Juga :