KLHK Perkuat Sinergitas Wujudkan Pengelolaan Hutan Lestari
Jum'at, 02 Februari 2024 - 11:33 WIB
Agus mengungkapkan dalam mewujudkan pengelolaan hutan lestari penuh dengan tantangan. Di antaranya pengelolaan hutan di tingkat tapak yang clean and clear. Kemudian meningkatkan produktivitas kawasan hutan.
Selanjutnya menjadikan kayu hutan alam sebagai premium goods. Terakhir mendorong diversifikasi industri pengolahan hasil hutan dalam upaya mendukung multi usaha kehutanan.
Tantangan lainnya terkait kecepatan dan keterbukaan proses permohonan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hasil Hutan (PBPHH). ”Dan perlu adanya kebijakan pengelolaan hutan yang responsif terhadap isu geo-politik global,” tandasnya.
Oleh karena itu, lanjut Agus, kehadiran seluruh Kepala BPHL dan stakeholders Ditjen PHL di Tingkat Tapak pada Rakornis PHL yang diselenggarakan menjadi sangat penting. Pasalnya, mereka merupakan jendela pengetahuan kondisi tapak pembangunan hutan lestari. Di mana setiap jengkalnya menghadirkan tantangan akan pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang berbeda-beda.
“Alam yang membentang dari pesisir dan lautan hingga puncak gunung di setiap pulau berbeda antara satu dengan lainnya. Kondisi ini berbeda dengan hampir di sebagian besar negara-negara di dunia lainnya. Bahwa kondisi lingkungan Indonesia yang beragam dan kompleks, menuntut perbaikan kebijakan sesuai dengan kondisi tapaknya,” jelasnya.
Selanjutnya menjadikan kayu hutan alam sebagai premium goods. Terakhir mendorong diversifikasi industri pengolahan hasil hutan dalam upaya mendukung multi usaha kehutanan.
Tantangan lainnya terkait kecepatan dan keterbukaan proses permohonan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hasil Hutan (PBPHH). ”Dan perlu adanya kebijakan pengelolaan hutan yang responsif terhadap isu geo-politik global,” tandasnya.
Oleh karena itu, lanjut Agus, kehadiran seluruh Kepala BPHL dan stakeholders Ditjen PHL di Tingkat Tapak pada Rakornis PHL yang diselenggarakan menjadi sangat penting. Pasalnya, mereka merupakan jendela pengetahuan kondisi tapak pembangunan hutan lestari. Di mana setiap jengkalnya menghadirkan tantangan akan pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang berbeda-beda.
“Alam yang membentang dari pesisir dan lautan hingga puncak gunung di setiap pulau berbeda antara satu dengan lainnya. Kondisi ini berbeda dengan hampir di sebagian besar negara-negara di dunia lainnya. Bahwa kondisi lingkungan Indonesia yang beragam dan kompleks, menuntut perbaikan kebijakan sesuai dengan kondisi tapaknya,” jelasnya.
Lihat Juga :