Terkucil Dikecam Kejam dan Misinformasi

Selasa, 05 Desember 2023 - 09:35 WIB
Pemerintah di Gaza melaporkan bahwa lebih dari 60 persen rumah dan infrastruktur di Jalur Gaza telah hancur. Menurut Mohammed Majed, Hacer Başer yang mendapat informasi dari Israel bahwa para pejabat Israel telah mengumumkan bahwa gencatan senjata atau jeda kemanusiaan dapat diperpanjang satu hari di Gaza lagi jika Hamas membebaskan 10 wanita lagi yang ditawan mereka. Yang parahnya lagi, menurut pers Israel bahwa pemerintahan Netanyahu justru tengah bersiap untuk melakukan pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza.

Untuk kepentingan pemindahan tersebut tengah dipertimbangkan membuka jalur laut untuk mengusir warga Palestina keluar dari Gaza. Ini adalah rencana yang didukung oleh kelompok sayap kanan. Menteri Keuangan di kabinet telah meminta Netanyahu untuk tidak memperpanjang jeda kemanusiaan. Media Israel menulis bahwa pemerintahan Netanyahu sedang menyusun rencana untuk mengurangi populasi Palestina di Gaza dan membuka jalur laut untuk tujuan ini.

Baca Juga: Hamas Bebaskan Sandera Melalui Palang Merah Internasional

Dalam pemberitaan yang dimuat koresponden politik senior surat kabar Israel HaYom, Mati Tuchfeld, disebutkan bahwa Netanyahu meminta Menteri Urusan Strategis di Kabinet Perang, Ron Dermer, untuk segera menyusun rencana deportasi warga Palestina di Jalur Gaza dengan membuka Rafah, gerbang perbatasan dan bahkan pembukaan jalur laut. Netanyahu juga telah menyampaikan rencana tersebut kepada Kabinet Perang untuk membuka jalur laut bagi warga Palestina untuk bermigrasi ke negara-negara Eropa atau Afrika.Sementara, partai Likud pimpinan Netanyahu dan tokoh-tokoh sayap kanan di pemerintahan sependapat dan memandang bahwa rencana ini sebagai suatu keharusan.

Israel Abaikan Sanksi

Tidaklah berlebihan kalau banyak media yang menyesalkan tindakan Israel sejak 7 Oktober lalu yang dinilai barbar, mulai dari penyerangan rumah permukiman sipil, ambulans, kantor cabang perwakilan PBB, rumah sakit, kamp pengungsi termasuk penyerangan wanita dan anak anak. Pascagencatan senjata, kembali pengeboman terhadap rumah sakit dilakukan. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Rumah Sakit Baptis. Ini menjadi catatan kejahatan kemanusiaan yang paling keji sampai hari ini. 500 orang mati syahid. Di situ ada anak-anak, wanita, staf medis, dan beberapa pengungsi yang telantar setelah rumah mereka hancur dibombardir Israel.

Rumah sakit ini adalah Rumah sakit Nasional Arab (Baptis) yang terletak di Al-Zaytoun, sebelah selatan Kota Gaza yang didirikan oleh Masyarakat Misionaris Gereja Inggris pada tahun 1882. Rumah sakit ini adalah rumah sakit tertua di Palestina, tetapi bom Israel berhasil meluluhlantakkannya.

Banyak pihak meyakini Baptis bukanlah sasaran terakhir. Sejak awal perang di Jalur Gaza Israel dengan terang-terangan mengancam akan mengebom rumah sakit yang dianggap sebagai tempat warga sipil berlindung, karena Israel percaya bahwa rumah sakit tersebut adalah tempat yang aman sesuai dengan semua norma, etika, dan hukum internasional.

Dalam tiga hari terakhir banyak platform media sosial dan institusi media telah menyebarkan foto-foto mengenaskan dari Rumah Sakit Baptis. Tidak itu saja. Masih banyak tersebar berbagai foto lainnya yang sebagian besar adalah foto kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan menurut ukuran hukum humaniter internasional. Israel mungkin lupa bahwa Statuta Roma tentang Pengadilan Kriminal Internasional, Konvensi Jenewa tahun 1949, yang telah mendefinisikan bahwa “kejahatan perang” sebagai pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan selama konflik dan perang terhadap warga sipil pada umumnya, yang berarti bahwa penargetan warga sipil dan wilayah sipil secara sengaja tanpa alasan militer yang diperlukan untuk penargetan ini adalah kejahatan perang.

Hal ini tentu berlaku untuk apa yang dilakukan Israel di Jalur Gaza. Karena di setiap target seperi di Rumah Sakit Al - Shifa, Rumah Sakit Indonesia, dan Baptis ini korbannya semuanya waga sipil. Artinya targetnya adalah manusia dan peralatan nir militer sehingga banyak yang sependapat dengan pelapor PBB untuk Hak Asasi Manusia, Francesca Albanese, yang mengatakan bahwa penduduk Gaza sedang menjadi sasaran kegiatan genosida Israel. Sementara pelapor PBB tentang Hak Atas Air Pedro Araujo Agudo sedang mempertimbangkan tentang perilaku Israel membatasi kesempatan masyarakat untuk memperoleh penghidupan juga merupakan kejahatan perang.

Seperti bebal, Israel ternyata seperti tidak paham etika atau hukum internasional, karena mereka nyata-nyata dengan sengaja telah membombardir warga sipil, sekolah, tempat ibadah, tim medis, dan ambulans, menghilangkan bantuan dari masyarakat, dan dengan sengaja membuat mereka kelaparan, dengan tujuan untuk menggusur penduduk Gaza utara. Kejahatan yang dilakukan seolah adalah restu luas dari Barat, karena nyatanya Tel Aviv menerima dukungan finansial, militer, dan politik mutlak dari Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Inggris, dan negara-negara Barat lainnya. Pada saat bersamaan negara pro Israel sedang mendiskusikan pemberian dukungan tambahan kepada negara pendudukan dalam perang melawan Palestina.

Amerika Serikat pun menurut berbagai.media, sedang mengirimkan amunisi canggih yang diminta Israel, memasok pesawat tempur, yang kemudian mengebom Jalur Gaza.Washington juga mengirim kapal induk “Gerald Ford” ke Mediterania timur, disertai dengan pesawat tempur, kapal penjelajah, dan kapal perusak. Juga memutuskan untuk mengirim mengirim kapal induk “Dwight Eisenhower” dan kapal pendampingnya ke daerah tersebut. Inggris mengumumkan pengerahan peralatan militer untuk pengawasan angkatan laut dan udara serta dua kapal di Mediterania timur untuk mendukung Israel. Jerman, pada gilirannya, menyerahkan dua drone militer “Heron TB” kepada entitas Israel, yang masing-masing membawa satu ton amunisi. Sementara Paris memberikan informasi intelijen dan dukungan diplomatik

Ada juga yang gamang, seperti Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, yang juatru mengusulkan secara terbuka, tanpa rasa malu, dan di hadapan Kanselir Jerman Olaf Schulz, agar warga Palestina dipindahkan ke Gurun Negev sampai perlawanan selesai, dan setelah itu warga Palestina akan dikembalikan ke Gaza.

Melihat agresi Israel di Jalur Gaza seperti ini, sepertinya perang akan berlangsung lama. Para pemimpin Arab belum melakukan apa-apa. Mereka hanya mengeluarkan pernyataan semata-mata hanya untuk membuktikan bahwa mereka ada. Sementara masyarakat hanya dibiarkan turun ke jalan sambil membawa bendera Palestina dan mengecam kejahatan Israel. Demo terjadi di berbagai ibu kota dan kota di dunia Arab dalam berbagai tingkatan selama beberapa hari terakhir. Ini penting, mereka berkontribusi dalam membentuk opini publik Arab serta membuktikan bahwa warga negara Arab masih berpegang teguh pada prinsip utama mereka Palestina merdeka, meskipun Israel melakukan kekerasan.

Demonstrasi artinya memberikan dukungan simbolis kepada rakyat Palestina dan menegaskan bahwa bangsa Arab mendukung perlawanan mereka. Ini juga merupakan tekanan pada rezim untuk mengubah posisi mereka dan memaksa sebagian dari mereka untuk mengambil sikap yang lebih tegas terhadap apa yang terjadi di Jalur Gaza, Israel, Tepi Barat, dan wilayah pendudukan di Palestina lainnya.

Beberapa konsep penghentian perang yang secara regional secara efektif dapat dilakukan. Pertama, selain senjata minyak dan gas, Mesir, misalnya, sebenarnya bisa memanfaatkan senjata ampuhnya "Terusan Suez". Dunia sudah melihat bertahun-tahun yang lalu bagaimana bila ada larangan kapal masuk ke terusan itu akan berdampak pada perdagangan global. Ini adalah senjata penting dan sah yang bisa digunakan untuk memberikan tekanan pada negara-negara Barat yang mendukung Israel. Negara-negara Arab cukup memberikan dukungan suara di PBB- tidak harus mempersiapkan tentara dan mengirim mereka ke Palestina
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!