Sule dan Butarsi Berkolaborasi, Stunting Perlahan Pergi

Minggu, 05 November 2023 - 19:12 WIB
Pasangan Syaiful dan Nur Fadilah bersyukur ikhtiar agar putrinya bebas dari stunting membuahkan hasil. Foto: Anton Chrisbiyanto/SINDOnews
JAKARTA - Syaiful nampak letih. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya yang masih 30 tahun. Di kontrakan berukuran 3x5 meter persegi yang disewanya dengan tarif Rp800.000 per bulan, pria asal Sragen Jawa Tengah itu tampak sibuk menyiapkan gerobak dorong berbahan aluminium untuk menjual dagangannya.

baca juga: Perang Melawan Stunting



Mengadu nasib ke Jakarta, Syaiful mengaku kurang beruntung, lantaran impiannya untuk bekerja di sektor formal belum terwujud. Namun, ia tak patah arang. Semangat untuk mengarungi kerasnya mengais rejeki di Ibu Kota membuat Syaiful terus berjuang.

“Saat pertama kali datang ke Jakarta, saya menjadi karyawan di pedagang makanan. Sekarang saya coba mandiri dengan berjualan sendiri,” ujarnya kepada SINDOnews saat ditemui di kontrakannya RT 07, RW 01, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, Minggu (5/11/2023)

Syaiful berjualan sempol ayam, gorengan yang terbuat dari daging ayam cincang dicampur tepung tapioka dan bumbu. Dengan mendorong gerobak bertuliskan Sempol Ayam Cahaya 08, Syaiful terus berusaha mengais rezeki. Setiap sore, pria berkumis tipis itu berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya di kawasan Koja, Jakarta Utara.

Pada 2019, Saiful berjumpa dengan Nur Fadilah (34) yang kemudian menjadi jodohnya. Mahligai rumah tangga dijalaninya dengan penuh perjuangan hingga lahirlah Ayumna Naila Zahwa, bayi mungil perempuan saat puncak Pandemi Covid-19, pada Juli 2020 silam, di RS Islam Jakarta Utara.

baca juga: Problematika Stunting, Kerja Bersama

Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, saat berusia 1,5 tahun, dirinya menyadari anaknya tak bisa berdiri sempurna. Berat badan Ayumni pun tak kunjung bertambah. Waktu terus berjalan, Syaiful menyadari ada yang tak beres dalam diri putrinya.

Syaiful dan istrinya lalu memutuskan membawa Ayumni ke rumah sakit. Bayi mungil itu harus dirawat di Intensive Care Unit (ICU) selama sepekan. “Ayumni divonis ada kelainan di kepala, juga kurang gizi alias gizi buruk,” ungkap Syaiful.

Sepekan dirawat, kondisi Ayumni mulai membaik. Syaiful pun memutuskan membawa putri kesayangannya itu pulang. Namun derita kembali datang, beberapa hari di rumah, gigi anak pertamanya itu seluruhnya tanggal. Syaiful masih tak sadar, gizi buruk berpengaruh terhadap kekuatan dan kesehatan gigi.

Berbagai ikhtiar dilakukan agar Ayumni bisa segera pulih, mampu berdiri dan berlari seperti anak-anak seusianya. Salah satu upaya yang dilakukan dengan membawa Ayumni ke ahli terapi tradisional. “Beberapa kali terapi dilakukan. Tapi saat saya ajarkan berdiri, masih gemetar, kakinya tak bisa menapak. Lambat laun saya tahu, ternyata memang anak saya mengalami gizi buruk,” paparnya.

Meskipun berada di kawasan permukiman yang dekat dengan layanan kesehatan, termasuk Posyandu, namun Syaiful dan istrinya mengaku menyimpan rapat-rapat kondisi anaknya. “Saya tak bisa terbuka karena malu dengan kondisi ekonomi saya, juga kondisi anak saya. Kondisi ekonomi saya membuat saya tak percaya diri untuk bergaul dengan warga,” katanya.

Kegetiran yang dialami Syaful disimpannya dalam-dalam. Tak banyak yang bisa dia lakukan. “Saya dan istri bingung harus bagaimana. Kami hanya bisa berdoa,” katanya.

baca juga: Wapres Dorong Kolaborasi Percepat Penurunan Stunting

Beruntung, Siti Suhada, Ketua PKK di RW01 yang merangkap Bendahara Kelurahan Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara kerap memantau kondisi warganya. “Keluarga Syaiful ini awalnya tertutup. Namun terus kami arahkan agar mau memeriksakan kondisi anaknya di Posyandu,” cetusnya.

Beragam pendekatan dilakukan hingga akhirnya Syaiful bersedia memeriksakan kesehatan anaknya secara berkala di Posyandu. Menurut Siti Suhada, tak hanya Ayumni, empat tahun silam, banyak balita di kawasan Rawa Badak Selatan yang menderita gizi buruk atau yang dikenal dengan istilah stunting.

“Penanganan kepada balita stunting terhambat karena banyak warga yang enggan terbuka. Umumnya mereka malu karena kondisi ekonominya. Banyak yang tidak tahu apa itu stunting. Yang mereka tahu hanya kurang gizi,” ungkap Siti Suhada.

Karenanya, lanjut dia, pihaknya bersama Puskesmas Kecamatan Koja, dan Kelurahan Rawa Badak Selatan rutin melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya asupan gizi anak. “Tak hanya saat anak lahir, tetapi saat anak masih dalam kandungan. Peningkatan literasi stunting terus kami lakukan sampai sekarang,” ujarnya.

Penggerak kesehatan di Kelurahan Rawa Bada terus melakukan edukasi untuk memutus mata rantai stunting salah satunya dengan Sekolah Gizi bagi ibu dan balita. “Seluruh kader Posyandu kami libatkan.Saat ini ada 200 balita yang kami pantau, dan hanya tiga balita yang kekurangan gizi. Itupun sudah berhasil ditingkatkan sejak tiga bulan terakhir,” paparnya.



Aktivitas sore hari anak-anak di Kecamatan Koja, Jakarta Utara memainkan gasing.

Foto: Anton Chrisbiyanto/SINDOnews


Program peningkatan gizi itu dilakukan bertahap sejak 2018 silam. Salah satunya dengan pemberian menu Sule singkatan dari Serba Unsur Lele, yang merupakan makanan olahan berbahan baku ikan lele yang dibuat ibu-ibu penggerak gizi kelompok Bunda Koja. Komunitas ini merupakan binaan PT Pertamina (Persero) Terminal BBM Jakarta.

Varian Sule pun beragam, di antaranya nugget, abon, stik, kerupuk, pangsit dan brownies. Ada juga Bubuk Tabur Bernutrisi (Butarsi) yang merupakan olahan produk abon ikan lele dicampur dengan daun kelor yang juga menjadi senjata mengatasi permasalahan gizi buruk di wilayah Rawa Badak Selatan dan kawasan lainnya di Jakarta Utara.

“Abon, nugget dibagikan kepada ibu dan balita di posyandu. Tetapi, jika mereka tidak hadir kami yang anatrakan ke rumah masing-masing,” kata Siti Suhada.

Perang melawan stunting dengan menggunakan Sule dan Butarsi itu dimulai sejak 2018 silam. Diawali oleh Integrated Terminal Jakarta Pertamina Patra Niaga membentuk Sekolah Gizi Pertamina Sehati (SGPS) yang memberikan pembekalan cara memasak menu murah, mudah dan sederhana namun bergizi seimbang.

Diberikan juga pembekalan mengenai bahaya gizi buruk dan stunting bila didiamkan dengan melibatkan peran Bunda Koja yang merupakan kader kesehatan di Kecamatan Koja di bawah pengawasan Puskesmas Koja dan ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Untuk diketahui, dalam Jurnal yang diterbitkan IPB, ikan lele dengan kandungan protein yang cukup tinggi berkisar antara 22,0% sampai dengan 46,0% dan kadar zat besi pada daun kelor sebesar 4,245 mg/100g menjadikan kombinasi yang tepat untuk pemenuhan zat gizi bagi balita. Ikan lele mempunyai kandungan gizi, khususnya protein yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!