Nilai-nilai Humanis-Edukatif Ibadah Kurban
Senin, 03 Agustus 2020 - 06:43 WIB
Nilai-nilai Humanis-Edukatif
Ajaran kurban mengandung nilai-nilai humanis-edukatif yang tinggi. Pertama, ajaran kurban mendidik manusia untuk lebih mencintai Allah (dan Rasul-Nya) daripada yang lain sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim, walaupun beliau harus menyembelih anaknya yang sangat dicintainya. Ismail, sebagai seorang anak yang patuh kepada perintah Allah, juga rela disembelih oleh ayahnya. Ini berarti urusan duniawi, seperti anak, harta benda, kekayaan, bisnis, dan urusan keuangan, jangan sampai menjadi penghalang untuk mengabdi serta beribadah secara maksimal kepada Allah.
Kedua, ibadah kurban bertujuan agar manusia "menyembelih" nafsu hewaniah dalam dirinya. Nafsu hewaniah, seperti egoisme, ananiyah , keserakahan, ketamakan, dan nafsu-nafsu rendah, serta jahat lainnya haruslah dikekang, dikendalikan, dan dilenyapkan dalam diri manusia. Ketiga, ibadah kurban mendidik manusia bersifat ikhlas dan rela berkorban dengan memberikan sesuatu yang dicintai kepada orang lain. Logikanya, memberikan sesuatu yang tidak dicintai kepada orang lain adalah bukan esensi ajaran kurban. Sesuatu yang tidak dicintai merupakan sesuatu tidak bernilai. Oleh karena itu, tidak sepatutnya sesuatu yang tidak bernilai itu diberikan kepada orang lain. Sebaliknya, apabila yang diberikan kepada orang lain adalah sesuatu yang dicintai dan bernilai, pengorbanan itu sangat bernilai bagi kepentingan manusia dan kemanusiaan. Contohnya, pengorbanan para pahlawan. Jiwa, raga, dan harta telah mereka korbankan untuk memerdekakan Tanah Air.
Keempat, ajaran kurban merupakan wujud nyata kesetiakawanan dan solidaritas sosial. Apabila solidaritas sosial luntur, maka kesetiakawanan sosial juga akan tergusur. Jika ini terjadi, tidak mustahil akan terjadi kecemburuan sosial yang pada gilirannya menimbulkan kerusuhan sosial dalam kehidupan masyarakat. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya disharmoni dan disintegrasi sosial yang tentu berdampak luas terhadap kehidupan politik, ekonomi, dan sosial-budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ajaran kurban sejatinya merupakan semangat berbagi dari yang mampu kepada yang tidak mampu. Dengan demikian, harmoni sosial bisa terjaga dengan baik.
Kurban pada Masa Pandemi
Ajaran kurban mengandung nilai-nilai humanis-edukatif yang tinggi. Pertama, ajaran kurban mendidik manusia untuk lebih mencintai Allah (dan Rasul-Nya) daripada yang lain sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim, walaupun beliau harus menyembelih anaknya yang sangat dicintainya. Ismail, sebagai seorang anak yang patuh kepada perintah Allah, juga rela disembelih oleh ayahnya. Ini berarti urusan duniawi, seperti anak, harta benda, kekayaan, bisnis, dan urusan keuangan, jangan sampai menjadi penghalang untuk mengabdi serta beribadah secara maksimal kepada Allah.
Kedua, ibadah kurban bertujuan agar manusia "menyembelih" nafsu hewaniah dalam dirinya. Nafsu hewaniah, seperti egoisme, ananiyah , keserakahan, ketamakan, dan nafsu-nafsu rendah, serta jahat lainnya haruslah dikekang, dikendalikan, dan dilenyapkan dalam diri manusia. Ketiga, ibadah kurban mendidik manusia bersifat ikhlas dan rela berkorban dengan memberikan sesuatu yang dicintai kepada orang lain. Logikanya, memberikan sesuatu yang tidak dicintai kepada orang lain adalah bukan esensi ajaran kurban. Sesuatu yang tidak dicintai merupakan sesuatu tidak bernilai. Oleh karena itu, tidak sepatutnya sesuatu yang tidak bernilai itu diberikan kepada orang lain. Sebaliknya, apabila yang diberikan kepada orang lain adalah sesuatu yang dicintai dan bernilai, pengorbanan itu sangat bernilai bagi kepentingan manusia dan kemanusiaan. Contohnya, pengorbanan para pahlawan. Jiwa, raga, dan harta telah mereka korbankan untuk memerdekakan Tanah Air.
Keempat, ajaran kurban merupakan wujud nyata kesetiakawanan dan solidaritas sosial. Apabila solidaritas sosial luntur, maka kesetiakawanan sosial juga akan tergusur. Jika ini terjadi, tidak mustahil akan terjadi kecemburuan sosial yang pada gilirannya menimbulkan kerusuhan sosial dalam kehidupan masyarakat. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya disharmoni dan disintegrasi sosial yang tentu berdampak luas terhadap kehidupan politik, ekonomi, dan sosial-budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ajaran kurban sejatinya merupakan semangat berbagi dari yang mampu kepada yang tidak mampu. Dengan demikian, harmoni sosial bisa terjaga dengan baik.
Kurban pada Masa Pandemi
Lihat Juga :