Kelaparan Berulang di Papua, Faktor Budaya Penghambat Penanganan
Rabu, 30 Agustus 2023 - 10:16 WIB
Sebetulnya masalah ini bisa ditangani dengan baik bila disadari karakteristik wilayah Papua sangat berbeda dengan wilayah lainnya di Indonesia. Akar masalah kelaparan yang terus berulang cenderung terkait pendidikan dan budaya yang belum tertangani dengan baik di sana.
Masalah pendidikan mestinya menjadi salah satu skala prioritas yang mesti ditangani secara berkesinambungan bagi warga di pedalaman Papua. Ketimpangan pendidikan penduduk Papua sangat ironis, Data BPS 2022 menyebutkan, 33,58 persen penduduk Papua tak punya ijazah, dan yang berpendidikan tinggi hanya sekiar 8,63 persen. Ini berarti, 91 persen penduduk Papua pendidikannya di bawah perguruan tinggi. Bagaimana mungkin mereka dapat menyejahterakan hidup dengan tingkat pendidikan seperti itu di zaman modern ini?
Soal budaya yang mengakar kuat untuk menetap di bukit tinggi bagi warga pedalaman juga belum tertangani dengan baik hingga kini. Padahal setiap kali musibah kelaparan terjadi, warga yang menetap di pedalamanlah yang menderita. Mereka yang bermukim di pedalaman sulit dijangkau dengan transportasi, baik melalui darat dan udara karena tinggal di punggung bukit terjal yang sulit dijangkau.Tinggal di pegunungan atau punggung bukit memang sudah menjadi tradisi bagi penduduk di pedalaman Papua secara turun temurun.
Tradisi lama warga bermukim di punggung bukit pedalaman memang sudah menjadi kebiasaan sejak masa lalu, karena perang antarsuku kerap terjadi. Bila mereka tinggal di punggung bukit akan mudah mengetahui dan menghindari serangan lawan yang datang secara tiba-tiba bila terjadi perang antarsuku. Perang antarsuku memang masih terjadi, dan sulit diatasi hingga saat ini di wilayah Papua. Namun, konflik klasik ini memang mulai bergeser dari sifat primordialisme antarsuku di masa lalu bermutasi menjadi perebutan jabatan birokrasi, ekonomi dan lainnya. Ironisnya lagi, kelompok suku asli di Papua terdiri atas sekitar 255 suku, dengan bahasa yang masing-masing berbeda sehingga amat sulit untuk ditangani.
Mereka enggan berpindah ke wilayah kota karena ada kepercayaan soal keketerikatan dengan roh para leluhur atau keluarga yang telah meninggal di tempat tersebut. Bagi mereka, berpindah dari tempat tersebut sama artinya meninggalkan dan menelantarkan leluhur mereka. Bahkan mereka punya prinsip, bagaimanapun sulitnya dan menderitanya di daerah leluhur, lebih baik tetap bertahan dan rela mati daripada harus meninggalkan leluhur mereka.
Kebiasaan mereka tinggal di punggung bukit tinggi juga untuk menghindari penyakit malaria. Penyakit malaria merupakan penyakit yang diwaspadai karena banyak warga yang bertempat tinggal pada ketinggian di atas 2000 meter. Mereka memperoleh pengetahuan secara turun-temurun, bahwa malaria hanya bisa berkembang di daerah panas atau di lembah bukit.
Kekeringan dan cuaca dingin ekstrem di Kabupaten Puncak, Papua Tengah merupakan fenomena tahunan yang biasa terjadi mulai bulan Mei, Juni, hingga Juli. Kebiasaan mereka tinggal di punggung bukit inilah yang sebenarnya yang semakin memperparah musibah kelaparan. Kalau saja mereka mau turun dari punggung bukit dan bercocok tanam di lembah, sebenarnya kekeringan yang mengakibatkan musibah kelaparan tidak perlu terjadi, dan separah saat ini.
Mereka yang sudah tinggal di lembah tak ada yang dilaporkan menderita kelaparan secara massal. Pengairan dan cuaca di lembah bukit sangat baik, dan tidak ada yang dilaporkan kekeringan lahan pertanian hingga saat ini. Sungai-sungai di lembah bukit hingga saat ini masih mengalir dengan baik dan tidak ada yang dilaporkan kekeringan. Air sungai tentu bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian.
Masalah pendidikan mestinya menjadi salah satu skala prioritas yang mesti ditangani secara berkesinambungan bagi warga di pedalaman Papua. Ketimpangan pendidikan penduduk Papua sangat ironis, Data BPS 2022 menyebutkan, 33,58 persen penduduk Papua tak punya ijazah, dan yang berpendidikan tinggi hanya sekiar 8,63 persen. Ini berarti, 91 persen penduduk Papua pendidikannya di bawah perguruan tinggi. Bagaimana mungkin mereka dapat menyejahterakan hidup dengan tingkat pendidikan seperti itu di zaman modern ini?
Soal budaya yang mengakar kuat untuk menetap di bukit tinggi bagi warga pedalaman juga belum tertangani dengan baik hingga kini. Padahal setiap kali musibah kelaparan terjadi, warga yang menetap di pedalamanlah yang menderita. Mereka yang bermukim di pedalaman sulit dijangkau dengan transportasi, baik melalui darat dan udara karena tinggal di punggung bukit terjal yang sulit dijangkau.Tinggal di pegunungan atau punggung bukit memang sudah menjadi tradisi bagi penduduk di pedalaman Papua secara turun temurun.
Tradisi lama warga bermukim di punggung bukit pedalaman memang sudah menjadi kebiasaan sejak masa lalu, karena perang antarsuku kerap terjadi. Bila mereka tinggal di punggung bukit akan mudah mengetahui dan menghindari serangan lawan yang datang secara tiba-tiba bila terjadi perang antarsuku. Perang antarsuku memang masih terjadi, dan sulit diatasi hingga saat ini di wilayah Papua. Namun, konflik klasik ini memang mulai bergeser dari sifat primordialisme antarsuku di masa lalu bermutasi menjadi perebutan jabatan birokrasi, ekonomi dan lainnya. Ironisnya lagi, kelompok suku asli di Papua terdiri atas sekitar 255 suku, dengan bahasa yang masing-masing berbeda sehingga amat sulit untuk ditangani.
Mereka enggan berpindah ke wilayah kota karena ada kepercayaan soal keketerikatan dengan roh para leluhur atau keluarga yang telah meninggal di tempat tersebut. Bagi mereka, berpindah dari tempat tersebut sama artinya meninggalkan dan menelantarkan leluhur mereka. Bahkan mereka punya prinsip, bagaimanapun sulitnya dan menderitanya di daerah leluhur, lebih baik tetap bertahan dan rela mati daripada harus meninggalkan leluhur mereka.
Kebiasaan mereka tinggal di punggung bukit tinggi juga untuk menghindari penyakit malaria. Penyakit malaria merupakan penyakit yang diwaspadai karena banyak warga yang bertempat tinggal pada ketinggian di atas 2000 meter. Mereka memperoleh pengetahuan secara turun-temurun, bahwa malaria hanya bisa berkembang di daerah panas atau di lembah bukit.
Kekeringan dan cuaca dingin ekstrem di Kabupaten Puncak, Papua Tengah merupakan fenomena tahunan yang biasa terjadi mulai bulan Mei, Juni, hingga Juli. Kebiasaan mereka tinggal di punggung bukit inilah yang sebenarnya yang semakin memperparah musibah kelaparan. Kalau saja mereka mau turun dari punggung bukit dan bercocok tanam di lembah, sebenarnya kekeringan yang mengakibatkan musibah kelaparan tidak perlu terjadi, dan separah saat ini.
Mereka yang sudah tinggal di lembah tak ada yang dilaporkan menderita kelaparan secara massal. Pengairan dan cuaca di lembah bukit sangat baik, dan tidak ada yang dilaporkan kekeringan lahan pertanian hingga saat ini. Sungai-sungai di lembah bukit hingga saat ini masih mengalir dengan baik dan tidak ada yang dilaporkan kekeringan. Air sungai tentu bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian.
Lihat Juga :