Bangun Kesiapsiagaan Digital Cegah Penyebaran Paham Radikal di Medsos
Rabu, 09 Agustus 2023 - 02:30 WIB
"Setelah itu next step-nya dimasukkan dalam grup-grup diskusi seperti WhatsApp, Telegram atau messaging yang lain, dan kemudian informasi yang lebih personal," ucap Kang Arul, sapaan Rulli Nasrullah di Jakarta.
Kang Arul menekankan karakter dan tingkat literasi media individu berperan penting untuk menyaring referensi yang dibaca, mengingat algoritma dalam internet cenderung akan memberikan referensi sesuai dengan apa yang sering dibaca. Jika seseorang suka dengan konten konten keras, radikal, terorisme, dan kebencian, maka dengan sendirinya referensi yang muncul akan konten konten sejenis. Namun terkadang, individu itu sendiri yang kurang cakap untuk menyaring filter yang negatif.
Karena itu, Kang Arul menilai pentingnya komunikasi orang tua kepada anak, adik kepada kakak, atau sesama teman untuk saling mengingatkan dan mendorong penggunaan media sosial dalam hal yang positif.
"Komunikasi untuk meyakinkan bahwa di media sosial itu ini pasar ide bebas, anda bisa mendapatkan banyak hal, bisa mendapatkan mulai dari yang positif dan negatif," katanya.
Selain itu, penulis buku Teori dan Riset Media Siber (Cybermedia) ini juga menambahkan, kondisi emosional seseorang berperan penting terhadap referensi yang dilihatnya. Terkadang orang yang mengakses media sosial dalam situasi yang tidak normal, sehingga dengan logika waktu cepat, dia tidak dapat memfilter atau melakukan verifikasi informasi terhadap orang lain atau media massa. Ketika sudah mengakses suatu konten, maka seolah-olah itu adalah informasi yang benar. Hal inilah yang membuat maraknya hoax dan misinformasi.
Kang Arul menekankan karakter dan tingkat literasi media individu berperan penting untuk menyaring referensi yang dibaca, mengingat algoritma dalam internet cenderung akan memberikan referensi sesuai dengan apa yang sering dibaca. Jika seseorang suka dengan konten konten keras, radikal, terorisme, dan kebencian, maka dengan sendirinya referensi yang muncul akan konten konten sejenis. Namun terkadang, individu itu sendiri yang kurang cakap untuk menyaring filter yang negatif.
Karena itu, Kang Arul menilai pentingnya komunikasi orang tua kepada anak, adik kepada kakak, atau sesama teman untuk saling mengingatkan dan mendorong penggunaan media sosial dalam hal yang positif.
"Komunikasi untuk meyakinkan bahwa di media sosial itu ini pasar ide bebas, anda bisa mendapatkan banyak hal, bisa mendapatkan mulai dari yang positif dan negatif," katanya.
Selain itu, penulis buku Teori dan Riset Media Siber (Cybermedia) ini juga menambahkan, kondisi emosional seseorang berperan penting terhadap referensi yang dilihatnya. Terkadang orang yang mengakses media sosial dalam situasi yang tidak normal, sehingga dengan logika waktu cepat, dia tidak dapat memfilter atau melakukan verifikasi informasi terhadap orang lain atau media massa. Ketika sudah mengakses suatu konten, maka seolah-olah itu adalah informasi yang benar. Hal inilah yang membuat maraknya hoax dan misinformasi.
Lihat Juga :