Cawe-cawe Urusan Haji

Selasa, 27 Juni 2023 - 17:29 WIB
Bagi Indonesia, penyelenggaraan haji di Arafah ini tak kalah menjadi tantangan tersendiri. Ini lantaran operasional haji di kawasan Masyair (Arafah, Muzdalifah dan Mina) di bawah kendali otoritas Saudi yang kemudian pada tataran teknis didelegasikan ke Masyariq. Ini konsorsium anyar yang diberlakukan mulai 2022. Sebelumnya, konsorsium yang dipercaya adalah Muassasah Asia Tenggara (Muassasah Janub Syarq Asia).

Berbeda dengan muassasah yang bersifat sosial, Masyariq ini cakupannya lebih luas dan tentu cenderung komersial. Faktor inilah yang antara lain jadi pemicu ongkos haji begitu tinggi lantaran Saudi juga menaikkan biaya di Masyair sejak 2022.

Toh demikian, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama sebagai penyelenggara haji juga tampak tak mau berpangku tangan. Ini tak berlebihan. Sebab Kemenag meyakini penyelenggaraan haji di Masyair adalah fase yang sangat kritis. Bagaimana tidak, jemaah melakoni ritual yang luar biasa.

Aktivitas jemaah banyak berada di tenda atau luar tenda, jalan kaki jauh, tersengat sinar matahari terik bahkan hingga 46 derajat Celcius dan mengenakan kain ihram. Fasilitas di Masyair juga terbatas baik tempat tidur, toilet, kamar mandi, makan, transportasi dan sebagainya. Energi jamaah banyak akan terkuras karena jamaah rata-rata tinggal di Masyair selama lima hingga enam hari.

baca juga: Haji 2023: Kisah Para Dermawan Menyambut Tamu Allah

Ada banyak respons perbaikan dari Saudi untuk peningkatan layanan di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) tahun ini. Antara lain adanya penambahan mobil golf (golf car) hingga totalnya 65 unit, toilet, toilet difabel, pendingin udara (AC), kasur lebih empuk dan sebagainya.

"Peningkatan-peningkatan layanan yang dilakukan Masyariq dan Pemerintah Saudi sudah sangat baik. Ini sesuai dengan kesepakatan yang tahun lalu kita bicarakan,” terang Gus Men, panggilan akrab Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat meninjau fasilitas di Arafah, persis sepekan jelang wukuf.

Dalam catatan SINDOnews, tak hanya jelang wukuf Gus Men memastikan langsung layanan untuk jamaah haji disiapkan optimal. Bahkan untuk kontrak katering, transportasi dan akomodasi, Gus Men juga beberapa kali terjun langsung ke Saudi dalam setahun terakhir. Ini belum termasuk tim kecil khusus yang dibuat Gus Men untuk mengawasi betul perjanjian atau kontrak-kontrak dengan otoritas dan vendor Saudi.

Dari ketatnya pengawalan inilah, Kemenag akhirnya juga bisa melakukan terobosan layanan. Katering misalnya. Sesuai rapat dengan DPR, katering jemaah disepakati hanya dua kali sehari, yakni siang dan sore. Namun dari penghematan ketat sana-sini akhirnya muncul terobosan layanan makan pagi. Sekadar nasi kuning, orek telur dan mi tentu cukup untuk sarapan. Dus, sama dengan 2022, kali ini jemaah tak direpotkan belanja bahan, memasak, cuci piring dan sebagainya. Jemaah begitu nikmat beribadah. Pulang beribadah, di hotel sudah tersedia santapan.

baca juga: Doa Pulang Haji 2023 untuk Jemaah Haji yang Kembali ke Rumah

Pilihan mengusung tagline "Haji Ramah Lansia" pada penyelenggaraan haji 1444 H ini juga menghadirkan tantangan tersendiri. Kemenag banyak membuat layanan dan fasilitas khusus demi membantu jamaah uzur. Meski harus mengerahkan ratusan petugas khusus plus anggaran besar, layanan haji khusus lansia adalah pilihan tepat. Sebab tahun ini, dari 229.000 jumlah jemaah, sekitar 30% tergolong lansia atau di atas usia 65 tahun.

Tak berlebihan pula, dengan kesadaran itu, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi membuat terobosan lain seperti memasak bubur, jus, kacang hijau dan lain sebagainya bagi jemaah lansia. Tim kesehatan juga tak lelah membuat terobosan lain seperti menyediakan rompi pendingin untuk mengantisipasi heat stroke yang kapan pun bisa menimpa jemaah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!