Transformasi Budaya Pangan Asal Kenyang

Selasa, 20 Juni 2023 - 16:19 WIB
Khudori/Dok Pribadi
Khudori

Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP)



Indonesia bukan Amerika atau Eropa yang miskin keaneragaman hayati. Berada di wilayah tropis dengan siklus iklim panas, lembab, basah, dan matahari sepanjang tahun sejatinya sifat intrinsik alam tropis Indonesia adalah keanekaragaman spesies flora dan fauna yang tinggi per satuan luas atau waktu. Sayangnya, akibat pola monokultur dalam produksi dan budaya konsumsi membuat sistem ekologis penopang keanekaragaman hayati mengalami erosi luar biasa. Bahkan, ironisnya, diikuti kerusakan lingkungan pula.

Dalam banyak publikasi disebutkan bahwa Indonesia kaya plasma nuftah, yakni nomor dua dunia setelah Brazil. Bahkan, diyakini Indonesia berada di nomor pertama bila plasma nutfah laut diperhitungkan. Indonesia punya 77 jenis kabohidrat yang berpotensi sebagai sumber pangan, baik dari serealias (padi, jagung, sorgum, jali, hotong, jewawut), umbi-umbian (singkong, ubi jalar, ganyong, talas, gembili, garut, gadung), sagu, dan buah (sukun, pisang, labu). Ketika dicek, pola diet tak kompatibel dengan potensi. Pada 2018, sebesar 65,7% asupan energi warga hanya dari tiga serealia: beras, gandum, dan jagung. Dari tiga itu, beras mendominasi (lebih dari 80%) dengan 97,1 kg/kapita/tahun.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!