Fakta-fakta Letjen TNI (Purn) Besar Harto Karyawan
Senin, 05 Juni 2023 - 06:06 WIB
“Selama kurang lebih 35 tahun bertugas di TNI AD, hampir 20 tahun saya menjalankan tugas di lapangan baik operasi maupun latihan. Diberikan kesempatan dan kepercayaan menjadi Pangkostrad merupakan yang paling berkesan,” ujar Letjen TNI (Purn) Besar Harto Karyawan dalam video yang diunggah kanal YouTube TNI AD pada 18 Juni 2021.
Dia mengungkapkan bahwa untuk menjadi seorang prajurit harus menguasai 5 kemampuan dasar dan 1 kemampuan spesialisasi yang akan menciptakan prajurit yang profesional. “Seluruh hal mendasar yang mereka kuasai harus dipertanggungjawabkan sampai akhir hayat menjadi seorang prajurit,” katanya.
Dia mengaku ingin selalu berkumpul bersama keluarga dan menikmati kebahagiaan yang telah dihasilkan selama 35 tahun bertugas di TNI AD setelah memasuki masa purnabakti. “Berkumpul bersama keluarga yang kerap saya tinggalkan bertugas merupakan kesempatan emas bagi saya di masa purnabakti ini,” tuturnya.
Tak jarang dirinya bersama keluarga pindah-pindah tempat tinggal mengikuti sang ayah yang pindah tugas. Pada usia dua tahun, Besar Harto dan keluarga pindah ke Talu, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.
“Di Talu 1 tahun, kebetulan bapak saya menjabat Buterpra di sana atau Danramil,” kata Besar Harto Karyawan ketika momen pulang kampung sekitar dua tahun lalu dikutip dari kanal YouTube Bang Nadli.
Saat momen pulang kampung ke tanah kelahirannya, Lubuk Sikaping, Pasaman, Sumatera Barat, dirinya masih sebagai Danpussenif. “Kemudian pindah kembali ke Lubuk Sikaping ini dan menetap di sini sampai tahun 1966,” tuturnya.
Selanjutnya, dia dan keluarga pindah ke Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada 1966-1967. “Tahun 1969 kami pindah ke Medan (Sumatera Utara, red),” ucapnya.
Meski lahir di Padang, dia bukanlah berdarah Minang. Ibunya asli Slawi, Tegal, Jawa Tengah. Sedangkan sang ayah asli Pemalang, Jawa Tengah. “Mboke nyong Slawi, Bapake nyong Pemalang, ambo lahir di Padang ini,” kata dia.
“Buku ini merupakan referensi dari sebuah perenungan panjang saya, dalam pengabdian sebagai prajurit TNI selama 34 tahun, 21 tahun berturut-turut menjadi prajurit Darma Putra Kostrad," kata Besar.
Buku ini juga dibuat sebagai upaya menggali, mengurai, dan memaknai arti kekuatan yang terdapat pada lambang Cakra Kostrad, dikaitkan dengan berbagai anugerah hikmah yang terselip dalam setiap kejadian sepanjang perjalanan karier sehingga menghasilkan sebuah karya orisinil yang muncul dari akal sadar dan hati nuraninya yang paling dalam.
Dikutip dari laman resmi Pussenif, buku tersebut diciptakan dari hasil sebuah renungan dan pemikiran dari Besar Harto Karyawan. Isi buku ini tentang arti nilai-nilai kehidupan kita sebagai manusia, manusia sendiri diciptakan sempurna dari seluruh jenis mahluk hidup yang Tuhan ciptakan, manusia mempunyai akal dan pikiran yang menjadikannya mampu menjadi pengendali dalam kehidupan semesta ini.
“Maka dari pada itu, digalilah seluruh potensi yang ada pada diri seorang manusia, namun tentunya dengan akal yang diberikan Tuhan sangat terbatas untuk mengetahui apa yang bisa dilihat secara kasat mata hingga hanya bisa disadari secara intuisi belaka,” bunyi keterangan Penerangan Pussenif di laman resmi Pussenif mengenai buku tersebut.
Niat adalah fondasi dasar dalam bekerja dan melakukan semua kegiatan, karena pada dasarnya niat berasal dari lapisan hati manusia yang paling tulus dan ikhlas.
Dia mengungkapkan bahwa untuk menjadi seorang prajurit harus menguasai 5 kemampuan dasar dan 1 kemampuan spesialisasi yang akan menciptakan prajurit yang profesional. “Seluruh hal mendasar yang mereka kuasai harus dipertanggungjawabkan sampai akhir hayat menjadi seorang prajurit,” katanya.
Dia mengaku ingin selalu berkumpul bersama keluarga dan menikmati kebahagiaan yang telah dihasilkan selama 35 tahun bertugas di TNI AD setelah memasuki masa purnabakti. “Berkumpul bersama keluarga yang kerap saya tinggalkan bertugas merupakan kesempatan emas bagi saya di masa purnabakti ini,” tuturnya.
2. Anak Kolong
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Anak Kolong adalah anak serdadu atau anak tentara. Ya, ayah Besar Harto Karyawan adalah seorang tentara.Tak jarang dirinya bersama keluarga pindah-pindah tempat tinggal mengikuti sang ayah yang pindah tugas. Pada usia dua tahun, Besar Harto dan keluarga pindah ke Talu, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.
“Di Talu 1 tahun, kebetulan bapak saya menjabat Buterpra di sana atau Danramil,” kata Besar Harto Karyawan ketika momen pulang kampung sekitar dua tahun lalu dikutip dari kanal YouTube Bang Nadli.
Saat momen pulang kampung ke tanah kelahirannya, Lubuk Sikaping, Pasaman, Sumatera Barat, dirinya masih sebagai Danpussenif. “Kemudian pindah kembali ke Lubuk Sikaping ini dan menetap di sini sampai tahun 1966,” tuturnya.
Selanjutnya, dia dan keluarga pindah ke Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada 1966-1967. “Tahun 1969 kami pindah ke Medan (Sumatera Utara, red),” ucapnya.
Meski lahir di Padang, dia bukanlah berdarah Minang. Ibunya asli Slawi, Tegal, Jawa Tengah. Sedangkan sang ayah asli Pemalang, Jawa Tengah. “Mboke nyong Slawi, Bapake nyong Pemalang, ambo lahir di Padang ini,” kata dia.
3. Luncurkan Buku Delapan Kekuatan Cakra
Ketika masih menjadi Pangkostrad, Besar Harto Karyawan pernah meluncurkan buku 'Delapan Kekuatan Cakra Sebagai Sumber Inspirasi, Profesionalisme Dan Senjata Pamungkas Prajurit Darma Putra Kostrad'. Peluncuran buku tersebut berlangsung di Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (8/5/2020).“Buku ini merupakan referensi dari sebuah perenungan panjang saya, dalam pengabdian sebagai prajurit TNI selama 34 tahun, 21 tahun berturut-turut menjadi prajurit Darma Putra Kostrad," kata Besar.
Buku ini juga dibuat sebagai upaya menggali, mengurai, dan memaknai arti kekuatan yang terdapat pada lambang Cakra Kostrad, dikaitkan dengan berbagai anugerah hikmah yang terselip dalam setiap kejadian sepanjang perjalanan karier sehingga menghasilkan sebuah karya orisinil yang muncul dari akal sadar dan hati nuraninya yang paling dalam.
Dikutip dari laman resmi Pussenif, buku tersebut diciptakan dari hasil sebuah renungan dan pemikiran dari Besar Harto Karyawan. Isi buku ini tentang arti nilai-nilai kehidupan kita sebagai manusia, manusia sendiri diciptakan sempurna dari seluruh jenis mahluk hidup yang Tuhan ciptakan, manusia mempunyai akal dan pikiran yang menjadikannya mampu menjadi pengendali dalam kehidupan semesta ini.
“Maka dari pada itu, digalilah seluruh potensi yang ada pada diri seorang manusia, namun tentunya dengan akal yang diberikan Tuhan sangat terbatas untuk mengetahui apa yang bisa dilihat secara kasat mata hingga hanya bisa disadari secara intuisi belaka,” bunyi keterangan Penerangan Pussenif di laman resmi Pussenif mengenai buku tersebut.
Berikut 8 kekuatan cakra yang dirangkum dalam buku tersebut:
1. Niat yang baik, tulus dan ikhlasNiat adalah fondasi dasar dalam bekerja dan melakukan semua kegiatan, karena pada dasarnya niat berasal dari lapisan hati manusia yang paling tulus dan ikhlas.
Lihat Juga :