Akademisi Sebut Perbedaan Hari Raya Idulfitri Adalah Rahmat
Kamis, 20 April 2023 - 19:48 WIB
Seperti disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW, al ikhtilaafu ummati rahmah yang berarti perbedaan di antara umatku adalah rahmat. Perbedaan harus dimaknai sebagai keindahan yang harus dipupuk dan tidak dijadikan sebagai alat politisasi suatu kelompk.
"Jika perbedaan-perbedaan itu justru dijadikan sebagai bahan untuk memunculkan perpecahan karena ingin memenangkan satu kelompok sendiri, maka perbedaan itu justru akan menjadi musibah bagi bangsa Indonesia," kata Rubi yang juga merupakan dosen Program Studi Magister Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah, di Jakarta, Kamis (20/4/2023).
Rubi berharap, dengan momentum Ramadan dan Idulfitri ini, umat kembali kepada fitrah manusia yang sesungguhnya yakni mencintai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kedamaian.
Dengan dilandasi semangat spiritual dan kebangsaan, sejatinya momentum ini mampu memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang dapat meredam perpecahan bangsa.
Ia menjelaskan, bulan Ramadan dikenal memiliki banyak kemuliaan, mulai dari bulan suci, bulan penuh rahmat, hingga bulan syahru jihad atau bulan jihad.
Dikatakan syahru jihad, karena secara historis pelaksanaan Ramadan pada masa Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan peristiwa perang dan kemenangan yang diraih umat Islam.
Namun semangat ini kerap disalahartikan oleh beberapa kelompok dengan konteks yang tidak sesuai. Jihad kerap diartikan dengan makna perang (qital), sehingga berpendapat bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membuat teror bagi kelompok radikal-terorisme.
"Ketika umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa atau menahan diri, itu pada dasarnya kita sedang berjihad, oleh karena itulah Ramadan disebut juga dengan dengan syahrul jihad," tuturnya.
"Jika perbedaan-perbedaan itu justru dijadikan sebagai bahan untuk memunculkan perpecahan karena ingin memenangkan satu kelompok sendiri, maka perbedaan itu justru akan menjadi musibah bagi bangsa Indonesia," kata Rubi yang juga merupakan dosen Program Studi Magister Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah, di Jakarta, Kamis (20/4/2023).
Rubi berharap, dengan momentum Ramadan dan Idulfitri ini, umat kembali kepada fitrah manusia yang sesungguhnya yakni mencintai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kedamaian.
Dengan dilandasi semangat spiritual dan kebangsaan, sejatinya momentum ini mampu memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang dapat meredam perpecahan bangsa.
Ia menjelaskan, bulan Ramadan dikenal memiliki banyak kemuliaan, mulai dari bulan suci, bulan penuh rahmat, hingga bulan syahru jihad atau bulan jihad.
Dikatakan syahru jihad, karena secara historis pelaksanaan Ramadan pada masa Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan peristiwa perang dan kemenangan yang diraih umat Islam.
Namun semangat ini kerap disalahartikan oleh beberapa kelompok dengan konteks yang tidak sesuai. Jihad kerap diartikan dengan makna perang (qital), sehingga berpendapat bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membuat teror bagi kelompok radikal-terorisme.
"Ketika umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa atau menahan diri, itu pada dasarnya kita sedang berjihad, oleh karena itulah Ramadan disebut juga dengan dengan syahrul jihad," tuturnya.
Lihat Juga :