Dinkes Sinyalir Masih Banyak Jajan Berbahaya

Senin, 11 Mei 2015 - 09:49 WIB
Dinkes Sinyalir Masih...
Dinkes Sinyalir Masih Banyak Jajan Berbahaya
A A A
DEPOK - Jajanan dengan menggunakan bahan campuran berbahaya disinyalir masih beredar di sekolah-sekolah di Depok.

Karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok mengambil sampel jajanan di 33 sekolah dasar (SD). Pengambilan sampel dilakukan acak selama dua pekan. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengawasan, penyuluhan, dan penilaian terhadap bahan makanan mengandung zat berbahaya yang beredar di sekolah.

Kepala Seksi Pengawas Obat dan Makanan Dinkes Kota Depok, Sih Mahayanti mengatakan, saat ini pihaknya sudah mengambil sampel jajanan dari 17 kantin SD, baik negeri maupun swasta. ”Sampel jajanan itu kemudian dikirim ke laboratorium untuk mengetahui kandungan apa saja yang terdapat di dalamnya,” kata Sih, kemarin.

Dalam uji laboratorium, sampel jajanan itu diuji dengan sejumlah parameter. Misalnya, apakah jajanan itu mengandung zat berbahaya, seperti boraks, formalin, siklamat, metanil yellow, rodhamin B, bakteri air, dan bakteri makanan dalam jajanan sekolah. Secara kasatmata jajanan yang mengandung zat berbahaya terlihat dari warnanya mencolok.

Selain itu, siswa juga perlu mewaspadai minuman yang terlalu manis sampai terasa agak pahit dan makanan dengan penyajian terbuka. ”Kalau jenis makanan bakso, mi kuning yang terlalu kenyal harus diwaspadai karena terindikasi mengandung boraks,” ungkapnya.

Kendati pengambilan sampel jajanan dilakukan rutin, namun Sih mengakui, masih ditemukan pelaku usaha di sekolah yang mencampurkan zat berbahaya ke dalam dagangannya. Misalnya, pengawet hingga zat pewarna yang seharusnya digunakan untuk tekstil. Sih menuturkan, Dinkes sulit menindak karena pihaknya tidak memiliki kewenangan memberikan sanksi kepada para pelaku.

Kepala Dinkes Kota Depok Lies Karmawati menambahkan, pemantauan dan pengambilan sampel jajanan terus dilakukan rutin. Namun pengawasan juga harus melibatkan pihak sekolah. Salah satunya dengan membentuk tim pengawas guna mengawasi peredaran makanan yang mengandung zat berbahaya. Menurutnya, efek zat tersebut membahayakan siswa yang mengonsumsinya.

”Mengonsumsi pemanis buatan berlebihan bisa menyebabkan pusing, obesitas, nyeri perut, dan diabetes. Bahkan bisa menyebabkan depresi dan kanker pankreas,” katanya.

R ratna purnama
(ftr)
Berita Terkait
Usung Slogan Jakarta...
Usung Slogan Jakarta Baru, Ridwan Kamil: Jakarta Butuh Imajinasi Baru
Aturan Baru Masuk Jakarta
Aturan Baru Masuk Jakarta
Mengantar Jakarta Memasuki...
Mengantar Jakarta Memasuki Normal Baru
Pramono akan Sulap Pasar...
Pramono akan Sulap Pasar Baru Jakpus Jadi Hub Baru seperti Blok M
Ridwan Kamil-Suswono...
Ridwan Kamil-Suswono Janji Bawa Jakarta Baru, Jakarta Maju
Megahnya Jakarta International...
Megahnya Jakarta International Stadium, Ikon Baru Spirit Olahraga Jakarta
Berita Terkini
Gugatan Paulus Tannos...
Gugatan Paulus Tannos di Singapura Ditolak, KPK: Percepat Proses Ekstradisi ke Indonesia
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Silmy di Jalan Brawijaya Jaksel
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Infografis
15 PTN Masih Buka Jalur...
15 PTN Masih Buka Jalur Mandiri 2025, Kesempatan Kedua yang Gagal SNBT
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved