Filipina Galang Dukungan Asia Tenggara

Selasa, 21 April 2015 - 10:29 WIB
Filipina Galang Dukungan...
Filipina Galang Dukungan Asia Tenggara
A A A
MANILA - Filipina terus menyuarakan pertentangannya terhadap proyek reklamasi laut oleh China di kawasan perairan Laut China Selatan yang berbatasan dengan Filipina.

Presiden Filipina Benigno Aquino akan meminta dukungan dari para pemimpin negara di Asia Tenggara untuk mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam proses reklamasi laut oleh China di wilayah perairan sengketa. Kekhawatiran serupa juga diungkapkan pihak militer Filipina.

Gambar satelit menunjukkan proses pembangunan pulau buatan terus berlangsung di Pulau Spratly, Laut China Selatan. Pulau buatan tersebut juga dilengkapi dengan landasan udara sesuai standar kebutuhan militer. Di pulau ini juga ada pembangunan infrastruktur lain.

”Presiden akan mengangkat isu reklamasi ini. Kami akan mengumpulkan pernyataan bersama. Fokusnya pada isu reklamasi di Laut China Selatan,” kata pejabat Kementerian Luar Negeri Filipina Luiz Cruz, dilansir Reuters, kemarin. Pemerintah China mengklaim sebagian besar wilayah yang kaya sumber energi ada di Laut China Selatan. Mereka juga membantah tuduhan atas aksinya yang dianggap sebagai tindakan provokatif.

Wilayah ini menjadi sengketa karena sejumlah negara mengklaim memiliki hak di antaranya Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan. Negaranegara tersebut mengatakan bahwa China secara ilegal melakukan reklamasi untuk menciptakan pulau buatan. Ini menimbulkan kecurigaan China akan memperkuat basis militernya di wilayah sengketa Spratly.

”Kondisi ini mengkhawatirkan dan menjadi perhatian utama kami,” ujar Panglima Militer Filipina Jenderal Gregorio Catapang. Militer Filipina telah mengingatkan China untuk menghentikan proses reklamasi yang terletak di wilayah sengketa Laut China Selatan. Jenderal Gregorio Catapang mengatakan, sikap agresif yang diperlihatkan China menimbulkan ketegangan di wilayah ini.

Bukti terbaru pulau buatan di Spratly menunjukkan alasan kuat untuk menggalang kekuatan dan memberi tahukan kepada dunia akan efek samping dari sifat agresif yang dilakukan China. Gregorio Catapang mengatakan, Pemerintah Filipina yakin reklamasi besar-besaran yang dilakukan China akan menimbulkan ketegangan di antara negara- negara yang juga mengklaim wilayah itu.

Pernyataan tersebut disampaikan bertepatan dengan dimulainya latihan militer gabungan terbesar antara Filipina dan Amerika Serikat (AS). Selama 10 hari dua negara akan melakukan simulasi militer dan memberikan bantuan kemanusiaan di Propinsi Zambales dan Subic Bay yang terletak di Laut China Selatan. Kantor berita DPA melaporkan, dalam latihan gabungan ini, pihak AS mengerahkan sekitar 6.650 tentara, 76 pesawat, dan tiga kapal.

Sementara Filipina menurunkan 5.000 tentara, 13 pesawat, serta satu kapal. Latihan gabungan di wilayah Balikatan, Filipina melibatkan 11.000 tentara dari dua negara dan merupakan yang terbesar dalam 15 tahun terakhir. Presiden AS Barrack Obama juga menyatakan kekhawatirannya bahwa China akan menggunakan kekuatannya untuk menyingkirkan negara lain yang berada di wilayah sengketa.

Duta Besar AS untuk Filipina Philip Goldberg saat pidato pembukaan latihan gabungan militer mengatakan, ”Kami tidak sedang berpura-pura bahwa kami benar-benar menolong Filipina untuk mempertahankan wilayahnya,” dilansir BBC. Goldberg menambahkan, AS akan membela prinsip-prinsip dasar untuk menentukan kebebasan di darat maupun laut.

Terpisah, Panglima TNI Jenderal Moeldoko kepada Reuters mengatakan, Asia memerlukan keseimbangan militer baru yang bukan berada di bawah naungan sebuah kekuatan besar. ”Terjadi perubahan yang sangat cepat pada wilayah yang dulunya tenang dan stabil beberapa dekade lalu,” tutur dia di Mabes TNI Jakarta. ”Jadi semua negara di sekitar wilayah menganggap bahwa China akan menjadi ancaman. Wilayah ini memerlukan keseimbangan, ”sambung Moeldoko.

Menanggapi meningkatnya ketegangan di wilayah Laut China Selatan, Indonesia akan memperkuat pertahanan militernya di Pulau Natuna dan Tanjung Datu yang terletak di Laut China Selatan, berdekatan dengan wilayah yang diklaim China. Tahun depan Pemerintah Indonesia akan mengadakan pertemuan puncak pertahanan untuk meredakan ketegangan. Sejumlah negara seperti AS, Jepang, China, dan negaranegara di kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan menghadiri pertemuan ini.

Arvin
(bbg)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Israel Meradang karena...
Israel Meradang karena Iran Sukses Luncurkan Satelit Militer
Kartun Menghina Khamenei,...
Kartun Menghina Khamenei, Pemred Media Iran Ditangkap
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
Cegah Kasus Korupsi...
Cegah Kasus Korupsi di BGN Terulang, Saut Situmorang Beri Saran Ini ke Nanik Deyang
Geger, WNI Bunuh WNI...
Geger, WNI Bunuh WNI di Hokkaido Jepang, Satu Anggota Polisi Ikut Terluka
Prihatin Kasus Korupsi...
Prihatin Kasus Korupsi di BGN, Hasto PDIP: Suara Kritis Masyarakat Sudah Mengungkapkan Hal Itu
Kelakar Jenderal Sigit:...
Kelakar Jenderal Sigit: Selesai Jadi Kapolri, Saya Gantian Jadi Aktivis
Prabowo Dinilai Mampu...
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
Infografis
23 Pemain Timnas Indonesia...
23 Pemain Timnas Indonesia U-17 Proyeksi Piala Asia U17 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved