Politik Tanpa Akal Sehat

Senin, 20 April 2015 - 09:12 WIB
Politik Tanpa Akal Sehat
Politik Tanpa Akal Sehat
A A A
Masyarakat, mahasiswa, LSM, dan berbagai kalangan pengamat sudah cukup risau dengan kesehatan politik yang terjadi di Indonesia.

Aksi mahasiswa sudah tidak sedikit di berbagai pelosok, tidak sedikit salah dua tuntutannya adalah penyelesaian seteru KPK vs politik dan mewujudkan partai politik yang sehat. Politik yang dipahami kini terkadang memiliki kesempitan pengertian yakni segala proses dan cara untuk mendapatkan kekuasaan.

Nyatanya, politik juga adalah alat untuk menggunakan kekuasaan untuk kebermanfaatan dan kesejahteraan. Hal tersebut dapat berupa keputusan politik, kebijakan publik, penetapan peraturan-peraturan, dan instrumen lain yang bermanfaat bagi khalayak. Untuk mengelola urusan politik, politik berasaskan akal sehat haruslah menjadi pedoman.

Akhir-akhir ini kekisruhan politik sudah cukup merisaukan masyarakat, semua berita kisruh politik terus mewarnai surat kabar dan media online membuat kita ragu untuk menaruh rasa percaya terhadap kesehatan perpolitikan Indonesia. Politik harus menggunakan nalar, dan nalar yang paling tinggi kastanya adalah kebijaksanaan (wisdom).

Beberapa persoalan politik di Indonesia akan mungkin selesai dalam waktu yang relatif cepat jika pelaku politik memiliki kebijaksanaan, tahu tempat dan tahu diri. Misalkan kisruh pemilihan calon kepala Polri, perintah Presiden Jokowi untuk tidak melantik BG haruslah dipahami oleh seluruh kalangan, tidak usah ada lagi penyelidikan terhadap keputusan Presiden seperti yang saat ini ramai diberitakan, mengingat keputusan untuk tidak melantik BG adalah keputusan yang diinginkan masyarakat.

Belum lagi dengan kasus internal salah satu partai politik di Indonesia, ambisi untuk merenggut satu kekuasaan memaksa perseteruan dua kubu. Masyarakat pada dasarnya menginginkan partai politik yang sehat, kepemimpinan dan kaderisasi yang sangat baik, namun mendengar dan membaca isu perseteruan seperti di atas dikhawatirkan akan memengaruhi rasa kepercayaan masyarakat, lagi-lagi kepada perpolitikan Indonesia.

Kita rasanya perlu untuk mengelola urusan politik dengan satu kebersamaan berpikir, tak lain dan tak bukan adalah kesetaraan dalam berpikir dengan akal sehat. Politik yang rasional dan logis, mengontrol keadaan politik dengan ruang pikiran.

Jika politisi-politisi Indonesia mau saja untuk bertindak seperti ini, tidak dibawa oleh arus emosi atau hasrat untuk memiliki kekuasaan, politik akan serupa yang dikatakan oleh Aristoteles. Dia alat untuk mengonversi berbagai sumber daya untuk menjadi sebuah kebahagiaan.

M Mulyawan A I Tuankotta
Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Ketua BEM FEUI
(ftr)
Berita Terkait
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
5 Fakta Jeffrey Epstein:...
5 Fakta Jeffrey Epstein: dari Guru Tanpa Ijazah hingga Dugaan Agen Mossad
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved